Memahami Jenis & Luka Diabetes yang Perlu Segera Ditangani!
Diabetes bukan hanya tentang tingginya kadar gula darah, tetapi juga rangkaian komplikasi yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya, termasuk masalah luka yang sulit sembuh. Untuk memahami risikonya, penting mengenali jenis-jenis diabetes seperti diabetes tipe 1 dan tipe 2, serta memahami perbedaan luka diabetes “kering” dan “basah” yang sering terjadi.
Diabetes melitus (DM) tipe 1 dan tipe 2 merupakan jenis diabetes paling sering dijumpai. Selain itu, ada juga jenis diabetes yang dialami dalam masa kehamilan atau dikenal diabetes gestasional. Namun menurut Hello Sehat, penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan diabetes bisa memengaruhi otak sehingga menyebabkan penyakit Alzheimer. Kondisi ini kemudian diperkenalkan sebagai diabetes tipe 3. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan jenis-jenis diabetes dilansir dari Hello Sehat.
Diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika tubuh kekurangan atau sama sekali tidak dapat menghasilkan hormon insulin. Padahal, insulin dibutuhkan untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.
Umumnya, diabetes tipe 1 terjadi dan ditemukan pada anak-anak, remaja, atau dewasa muda, meski bisa terjadi pada segala usia. Kemungkinan besar, diabetes tipe 1 terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan patogen (bibit penyakit) keliru menyerang sel-sel penghasil insulin di pankreas (autoimun).
Kekeliruan sistem imun tersebut bisa dipengaruhi oleh faktor genetik dan paparan virus di lingkungan. Jika kondisi ini terjadi, maka penderita diabetes tipe 1 membutuhkan terapi insulin seumur hidup untuk mengendalikan gula darahnya.
Secara umum, jenis diabetes ini dapat menyerang siapa saja, namun lebih mungkin terjadi pada orang dewasa dan lansia karena faktor gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurang gerak dan kelebihan berat badan.
Gaya hidup tidak sehat menyebabkan sel-sel tubuh kebal atau kurang sensitif merespon hormon insulin. Kondisi ini disebut juga dengan resistensi insulin. Akibatnya, sel-sel tubuh tidak dapat memproses glukosa dalam darah menjadi energi dan glukosa pun akhirnya menumpuk di dalam darah.
Untuk mengatasinya, Anda perlu menjalani pola hidup yang lebih sehat, seperti mengatur pola makan dan memperbanyak aktivitas fisik. Dokter juga mungkin akan memberikan obat diabetes untuk menurunkan gula darah yang tinggi dalam perawatan diabetes tipe 2.
Diabetes tipe 3 adalah kondisi yang disebabkan oleh kurangnya suplai insulin ke dalam otak yang dapat menurunkan kerja dan regenerasi sel otak, sehingga memicu terjadinya penyakit Alzheimer.
Menurut studi dari jurnal Neurology, risiko Alzheimer dan demensia bisa berkali lipat lebih tinggi pada penderita diabetes dibandingkan individu yang sehat. Penyakit Alzheimer pada penderita diabetes kemungkinan disebabkan oleh resistensi hormon insulin dan tingginya kadar gula dalam darah yang menyebabkan kerusakan dalam tubuh, termasuk kerusakan sel-sel otak.
Jenis diabetes ini terjadi selama kehamilan dan bisa menyerang ibu hamil meski tidak memiliki riwayat diabetes. Menurut American Pregnancy Association, klasifikasi diabetes ini muncul karena plasenta ibu hamil akan terus menghasilkan sebuah hormon khusus yang menghambat insulin bekerja dengan efektif. Akibatnya, kadar gula darah pun menjadi tidak stabil selama kehamilan.
Sebagian besar wanita tidak mengetahui dirinya mengalami diabetes jenis ini karena seringnya diabetes gestasional tidak memunculkan gejala dan tanda yang spesifik. Kabar baiknya, kebanyakan wanita yang mengalami diabetes ini akan sembuh dengan sendirinya setelah melahirkan. Agar tidak menimbulkan komplikasi, ibu hamil yang mengalami jenis diabetes melitus ini perlu mengecek kesehatan dan kehamilannya secara rutin dan mengubah gaya hidup yang lebih sehat.
Sebenarnya, tidak ada definisi diabetes basah atau kering dalam dunia medis. Pada dasarnya, diabetes basah dan kering adalah istilah yang seringkali digunakan untuk menjelaskan kondisi penyembuhan luka yang umumnya terjadi pada individu yang menderita diabetes. Dalam ilmu kedokteran, istilah diabetes basah dan kering merupakan sebuah kondisi kesehatan yang biasa disebut dengan istilah gangren.
Gangren didefinisikan sebagai matinya jaringan yang tidak mendapatkan oksigen karena sirkulasi darah yang buruk, sehingga jaringan tersebut berubah warna menjadi hitam bahkan mengelupas. Gangren sendiri memiliki dua jenis yaitu gangren basah dan gangren kering. Kedua jenis gangren inilah yang selama ini sering disalahartikan oleh penderita diabetes di Indonesia sebagai diabetes basah dan diabetes kering.
Gangren kering atau diabetes kering, biasanya merupakan komplikasi yang terjadi akibat kondisi lain, salah satunya diabetes. Hiperglikemia atau tingginya kadar gula dalam darah dapat menyebabkan rusaknya pembuluh darah di seluruh tubuh yang mengakibatkan terputusnya aliran darah hingga terjadilah kondisi yang disebut gangren.
Sesuai namanya, gangren kering umumnya dicirikan oleh kulit yang kering, keriput, dan mengalami perubahan warna, baik menjadi hitam, cokelat, atau ungu. Luka diabetes ini biasanya sulit sembuh sempurna namun tidak sampai bernanah. Luka yang tidak sampai bernanah menandakan penderita diabetes mampu mengontrol gula darah dalam tubuh dengan baik.
Gangren basah atau diabetes basah merupakan gangren yang disebabkan oleh infeksi. Jenis gangren ini biasanya merupakan ancaman bagi penderita diabetes yang memiliki gangguan sistem kekebalan karena tubuh yang kurang mampu melawan bakteri, virus, dan jenis infeksi lainnya.
Gangren basah biasanya berupa ulkus (luka terbuka) yang muncul pada kaki. Selain itu, gangren basah juga dapat menyebabkan penampakan kulit yang membengkak dan melepuh. Luka sekecil apapun pada penderita diabetes harus segera ditangani dengan benar, karena dalam beberapa kasus ulkus yang parah bisa menyebabkan kaki penderita diabetes harus diamputasi.
Terdapat beberapa faktor yang bisa menyebabkan luka diabetes sulit untuk disembuhkan. Dilansir dari Alodokter, berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab luka diabetes sulit disembuhkan.
Tingginya kadar gula dalam darah bisa mengakibatkan berbagai komplikasi, salah satunya penyempitan pembuluh darah arteri. Kondisi ini membuat aliran darah dari jantung menuju ke seluruh bagian tubuh menjadi terhambat, sehingga pasokan oksigen dan nutrisi menjadi sulit tersalurkan ke seluruh tubuh. Padahal, bagian tubuh yang luka sangat membutuhkan oksigen dan nutrisi yang terkandung dalam darah untuk mempercepat proses penyembuhan.
Meningkatnya kadar gula dalam darah menyebabkan sel-sel yang bertugas untuk menjaga kekebalan tubuh melemah, sehingga luka sedikit saja bisa mengakibatkan infeksi parah. Jika sudah begini, sel-sel kekebalan tubuh tidak bisa menyembuhkan atau mengeringkan luka dengan cepat pada penderita diabetes.
Salah satu faktor sulitnya penyembuhan atau pengeringan luka pada diabetes yaitu neuropati (kerusakan saraf). Neuropati sendiri merupakan kondisi di mana tubuh tidak bisa merasakan sesuatu atau mati rasa. Hal ini dikarenakan saraf di dalam tubuh sudah rusak akibat tingginya kadar gula darah yang menyebabkan jaringan saraf tidak mendapatkan aliran darah yang cukup. Biasanya kondisi ini lebih banyak terjadi pada bagian kaki dan tangan. Karena tidak merasakan sakit apa pun di daerah yang luka, Anda mungkin tidak sadar bila lukanya mengalami gesekan, bertambah parah, atau terbentuk luka yang baru.
Tidak seperti orang normal, penderita diabetes perlu mewaspadai jika anggota tubuhnya terluka, terutama di bagian kaki. Luka sekecil apapun jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan kondisi tubuh secara keseluruhan. Dilansir dari Alodokter, berikut pertolongan pertama penanganan luka diabetes yang bisa Anda lakukan.
Perlu diingat, jika luka di bagian kaki tidak sembuh setelah mendapatkan perawatan mandiri, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar luka tidak semakin memburuk dan menjadi sulit untuk ditangani.
Meskipun jaringan yang terlanjur rusak akibat gangren tidak dapat pulih sepenuhnya dan kembali seperti sediakala, pengobatan yang tepat dapat mengurangi risiko kondisi gangren agar tidak menjadi lebih parah, sekaligus mengurangi risiko komplikasi yang mungkin terjadi.
Perlu diketahui juga bahwa penanganan luka diabetes membutuhkan perhatian khusus, mulai dari perawatan luka yang tepat, kontrol kadar gula darah secara rutin, hingga pemantauan medis berkelanjutan untuk mencegah infeksi dan komplikasi yang lebih serius. Proses ini tidak hanya membutuhkan kedisiplinan, tetapi juga dukungan layanan kesehatan yang komprehensif dan berkesinambungan.
Salah satu produk asuransi yang bisa Anda pertimbangkan adalah Asuransi Mandiri Secure Criticare. Asuransi ini merupakan produk Asuransi Jiwa Dwiguna Kombinasi dengan Manfaat Meninggal Dunia karena Sebab Apapun, Manfaat Tambahan Meninggal Dunia Karena Kecelakaan, Manfaat Tambahan Meninggal Dunia Karena Kecelakaan dalam Transportasi Umum, Manfaat Penyakit Kritis (stadium awal dan stadium menengah/akhir), Manfaat Penyakit Terminal, Manfaat Tunai Dijamin, Manfaat Akhir Masa Asuransi dan Manfaat Asuransi Tambahan (Rider) (jika ada).
Dengan premi mulai dari Rp1 juta per bulan, Anda bisa mendapatkan perlindungan penyakit kritis utama sejak stadium awal, sekaligus memberikan Manfaat Tunai yang dijamin hingga 152% dari Premi Tahunan serta manfaat akhir asuransi hingga 1000% dari Premi Tahunan.
Konsultasikan perencanaan finansial Anda dalam memilih produk asuransi kesehatan dengan Life Planner dan Financial Advisor AXA Mandiri yang akan membantu Anda memahami manfaat asuransi dan memberikan solusi terbaik sesuai dengan kondisi finansial Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: