Aset Penerbit

Aset Penerbit

Kondisi Penyakit yang Diperbolehkan Melakukan Rawat Jalan

Inspirasi

Dalam layanan kesehatan, rawat jalan menjadi salah satu bentuk perawatan medis yang paling sering digunakan masyarakat. Layanan ini memungkinkan pasien mendapatkan pemeriksaan, pengobatan, atau tindakan medis tanpa harus menjalani perawatan menginap di rumah sakit. Namun, masih banyak yang belum memahami secara jelas bagaimana ketentuan rawat jalan dan perbedaannya dengan jenis perawatan lainnya.

Salah satu hal penting yang perlu diketahui adalah perbedaan rawat jalan dan rawat inap. Keduanya memiliki karakteristik, prosedur, serta kebutuhan medis yang berbeda, tergantung pada kondisi kesehatan pasien dan tingkat penanganan yang dibutuhkan. Ada berbagai kondisi dan daftar penyakit yang diperbolehkan untuk rawat jalan, selama masih dapat ditangani melalui konsultasi dokter dan pengobatan rutin. Meski terkesan sederhana, pasien tetap perlu mengetahui apa saja yang harus diperhatikan ketika rawat jalan, agar proses pengobatan berjalan efektif dan kesehatan dapat pulih secara optimal.

Apa itu rawat jalan?

Dilansir dari Halodoc, rawat jalan adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien yang tidak membutuhkan rawat inap. Mudahnya, Pasien dapat mengunjungi fasilitas kesehatan, menerima perawatan, dan pulang pada hari yang sama. Layanan ini mencakup konsultasi dokter, pemeriksaan diagnostik, pemberian obat, fisioterapi, dan tindakan medis lain yang tidak membutuhkan pengawasan intensif di rumah sakit.

Rawat jalan berfokus pada pemberian pelayanan yang efisien dan efektif di luar lingkungan rumah sakit, memungkinkan pasien untuk tetap aktif dalam kehidupan sehari-hari.

Apa perbedaan rawat jalan dan rawat inap?

Perbedaan utama antara rawat jalan dan rawat inap terletak pada kebutuhan pasien untuk menginap di fasilitas kesehatan. Rawat inap diperlukan ketika pasien membutuhkan observasi dan perawatan berkelanjutan selama 24 jam atau lebih. Sedangkan, rawat jalan cocok untuk kondisi medis yang stabil dan tidak membutuhkan pemantauan intensif.

Agar lebih mudah memahaminya, berikut perbedaan utama rawat jalan dan rawat inap yang perlu Anda pahami.

1. Pelayanan yang diberikan

Salah satu perbedaan mencolok antara rawat jalan dan rawat inap adalah berdasarkan treatment atau pelayanan yang diberikan. Seorang pasien rawat jalan akan meninggalkan klinik dokter atau rumah sakit setelah berobat. Pasien dinyatakan untuk rawat jalan apabila telah mendapatkan persetujuan dari dokter dan tetap harus mengonsumsi obat yang telah diresepkan. Dokter biasanya juga akan menganjurkan untuk melakukan kontrol rutin kepada pasien yang bersangkutan.

Sedangkan, pasien rawat inap biasanya akan menginap/tinggal selama beberapa hari di rumah sakit dan dokter akan melakukan pemantauan rutin untuk melihat perkembangan kondisi, sekaligus melihat catatan rekam medis sejak masuk ke rumah sakit. 

2. Prosedur pelayanan

Adapun prosedur pasien yang mendapatkan pelayanan rawat jalan adalah sebagai berikut: 

  • Melakukan pendaftaran pasien. 
  • Pasien akan menerima nomor antrean dan kuitansi pembayaran pengobatan, serta menerima arahan dari petugas administrasi untuk menuju ruang pemeriksaan sesuai dengan nomor antrean. 
  • Pasien melakukan pemeriksaan oleh dokter. 
  • Pasien diperkenankan untuk mengambil obat di bagian farmasi/apotek. 

Sedangkan prosedur pasien rawat inap adalah sebagai berikut: 

  • Pasien rawat inap atau walinya dapat menginformasikan kepada petugas administrasi mengenai kebutuhan pasien. 
  • Pasien akan menerima penanganan pertama dari dokter.
  • Setelah langkah penanganan pertama, pasien diperkenankan masuk ke ruang rawat inap yang telah disiapkan. 
  • Pasien melakukan cek laboratorium atau operasi jika dibutuhkan. 
  • Pasien meminum obat sesuai anjuran dokter. 
  • Pasien diperkenankan pulang apabila telah mendapatkan izin dari dokter, dan biasanya dokter akan menyampaikan informasi yang berkaitan dengan perawatan pasca rawat inap.

Selain itu, penanganan dan prosedur rawat inap dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan urgensinya yaitu:

  • Pasien tidak urgent: pasien bisa mendapatkan penundaan perawatan, lantaran tidak akan memengaruhi penyakitnya.
  • Pasien urgent: pasien dalam kondisi darurat, namun dapat dimasukkan ke dalam daftar tunggu. 
  • Pasien gawat darurat: pasien harus segera ditangani dan tidak bisa ditunda. 

Selain perbedaan diatas, rawat jalan dan rawat inap juga dapat dibedakan berdasarkan beberapa hal seperti:

  • Durasi perawatan: Rawat jalan selesai dalam satu hari, sedangkan rawat inap membutuhkan menginap.
  • Tingkat keparahan kondisi: Rawat jalan untuk kondisi stabil, rawat inap untuk kondisi yang membutuhkan pemantauan intensif.
  • Biaya: Rawat jalan umumnya lebih murah karena tidak ada biaya akomodasi.

Jenis-jenis layanan rawat jalan

Rawat jalan menjadi bentuk perawatan medis yang memungkinkan pasien mendapat tindakan medis tanpa harus menginap di rumah sakit.

Layanan rawat jalan mencakup berbagai spesialisasi medis dan prosedur. Beberapa jenis layanan rawat jalan yang umum meliputi:

  • Konsultasi Dokter Spesialis: Pertemuan dengan dokter spesialis untuk diagnosis dan rencana perawatan.
  • Pemeriksaan Diagnostik: Tes laboratorium, rontgen, USG, dan pemeriksaan lainnya.
  • Fisioterapi: Terapi fisik untuk pemulihan fungsi tubuh.
  • Rehabilitasi Medik: Program pemulihan untuk pasien dengan keterbatasan fisik atau kognitif.
  • Tindakan Bedah Minor: Prosedur bedah kecil yang tidak memerlukan rawat inap.
  • Pemberian Obat: Resep dan pemberian obat-obatan.
  • Vaksinasi: Pemberian vaksin untuk pencegahan penyakit.

Daftar penyakit yang diperbolehkan untuk rawat jalan?

Perlu diketahui juga bahwa tidak semua penyakit bisa mendapat fasilitas rawat jalan, semua harus berdasarkan izin dan pengetahuan dari dokter agar pemulihan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Pasien dengan penyakit ringan mendapat kesempatan lebih besar untuk berobat jalan. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa penyakit ringan yang biasanya diperbolehkan untuk rawat jalan.

1. Influenza

Influenza atau sering dikenal dengan flu merupakan penyakit yang mudah menular ke orang lain, terutama pada 2–3 hari pertama setelah penderita terinfeksi. Pada beberapa kasus, penularan flu terjadi lebih awal yaitu saat gejala belum terlihat. Flu disebabkan oleh virus influenza. Di Indonesia sendiri, virus influenza ini biasanya menyebar secara musiman, terutama influenza tipe A dan B, dan sering menyebar saat musim hujan atau cuaca dingin.

Umumnya, penyakit satu ini bisa sembuh dengan sendirinya asalkan pasien beristirahat, minum air putih yang  cukup, dan makan makanan bergizi agar tubuh cepat pulih. Agar gejalanya tidak semakin berat, Anda bisa mengonsumsi obat yang mengandung parasetamol atau ibuprofen. Namun, jika gejalanya berat dan berisiko mengalami komplikasi, dokter umumnya akan meresepkan obat antivirus, seperti oseltamivir, peramivir, atau zanamivir. 

2. Diare

Penyakit ringan yang bisa diobati dengan rawat jalan berikutnya adalah diare. Diare adalah keluhan buang air besar encer atau berair yang terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari. Kondisi ini disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus, bakteri, atau parasit.

Diare umumnya tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, diare yang tidak kunjung membaik dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, hingga kerusakan ginjal. Oleh karena itu, Anda perlu mengatasi diare dengan menjaga asupan cairan, dan mengonsumsi probiotik untuk mengembalikan keseimbangan bakteri baik di usus. Namun, jika kondisi diare berlangsung lebih lama, disertai darah, atau menyebabkan dehidrasi, maka diperlukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut oleh dokter. Dokter biasanya akan memberikan obat antidiare, obat pereda gejala seperti paracetamol atau ibuprofen, juga antibiotik.

3. Radang tenggorokan

Radang tenggorokan termasuk penyakit ringan yang bisa diobati dengan rawat jalan. Kondisi ini terjadi ketika tenggorokan mengalami peradangan akibat iritasi. Biasanya disebabkan oleh banyak hal,mulai dari infeksi virus dan bakteri, udara kering, alergi, hingga paparan asap rokok dan polusi berkepanjangan. Radang tenggorokan umumnya menyebabkan nyeri dan gatal di tenggorokan, batuk, sakit ketika menelan, dan suara serak.

Radang tenggorokan biasanya akan mereda dalam beberapa hari dengan perawatan mandiri. Namun, Anda dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter jika selama 1 minggu keluhan ini tidak membaik atau malah memberat. Biasanya, dokter akan memberikan obat anti radang, obat flu, demam, atau bisa juga obat anti nyeri seperti parasetamol dan ibuprofen. 

4. Maag

Sakit maag adalah nyeri serta rasa tidak nyaman pada lambung akibat sejumlah kondisi. Maag atau dispepsia bukan suatu penyakit, melainkan gejala dari penyakit. Meski terbilang mudah untuk disembuhkan, akan tetapi maag  juga bisa menjadi parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Oleh karena itu, pengidap maag harus segera mendapatkan perawatan saat gejala ini muncul.  Apabila gejalanya ringan, Anda bisa coba mengubah gaya hidup yang tidak sehat seperti kurangi makanan berlemak dan pedas, kurangi alkohol dan kafein, penuhi waktu istirahat, dan olahraga rutin. Namun, jika kondisi sudah mulai parah, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter agar diresepkan obat-obatan yang bisa meredakan gejalanya seperti obat golongan antasida, antagonis reseptor H-2, dan inhibitor pompa proton (PPI).

5. Tipes atau tifus

Tifus adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi tinja yang mengandung bakteri tersebut. Gejala tifus umumnya berkembang secara bertahap, biasanya muncul 1-3 minggu setelah terinfeksi bakteri.

Ada beberapa gejala tifus yang perlu diwaspadai dan membutuhkan penanganan medis seperti demam tinggi terus menerus selama beberapa hari, muncul bintik-bintik merah muda di perut dan dada (roseola), gangguan pencernaan yang parah, sakit perut yang hebat, penurunan kesadaran, dan muntah darah atau buang air besar berwarna hitam (tanda perdarahan usus).

Jika terjadi gejala tersebut, Anda bisa langsung memeriksakan diri ke rumah sakit. Biasanya dokter akan memberikan antibiotik untuk mencegah terjadinya komplikasi lanjutan. Penyakit tifus baru disarankan untuk rawat inap ketika sudah masuk kondisi parah, khususnya jika penderita masih di usia dini.

6. Cacar air

Cacar air adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Varicella zoster yang ditandai dengan munculnya ruam lepuh atau bentol-bentol berisi cairan yang terasa sangat gatal di seluruh tubuh. Penyakit ini bisa menyebabkan dampak buruk lebih lanjut pada kelompok tertentu seperti bayi, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS. Virus ini mudah menular melalui percikan ludah, atau kontak langsung dengan cairan yang berasal dari ruam maupun bentol penderita cacar air. 

Ruam lepuh akibat cacar air dapat berlangsung selama 5–10 hari. Jika gejalanya tidak membaik atau semakin parah, Anda bisa segera mengunjungi dokter. Biasanya, dokter akan memberikan beberapa pengobatan seperti meresepkan salep atau antihistamin minum, obat anti inflamasi nonsteroid (OINS) yang mengandung paracetamol, antibiotik jika ruam cacar mengalami infeksi bakteri, atau obat antivirus minum untuk pasien yang berisiko terkena komplikasi.

7. Demam

Demam adalah kondisi ketika suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 38°C yang bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari bayi hingga orang dewasa. Demam umumnya menjadi tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi atau mengalami gangguan tertentu, dan menjadi respons alami sistem kekebalan tubuh. Demam adalah sebuah kondisi yang menjadi indikasi dari penyakit lain pada tubuh manusia seperti influenza, radang tenggorokan, maupun tifus.

Sebagian besar keluhan demam bisa membaik dengan perawatan secara mandiri di rumah. Jika perlu mengonsumsi obat atau demam tidak segera membaik meski sudah ditangani di rumah, Anda bisa mengunjungi dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Apa yang perlu diperhatikan ketika rawat jalan?

Setiap orang dewasa atau perwakilannya yang kompeten memiliki hak mendasar untuk membuat keputusan yang tepat mengenai layanan kesehatan, salah satunya menolak untuk rawat inap. Pasien dan wali pasien berhak mendapatkan informasi mengenai status kesehatannya untuk dilibatkan dalam perencanaan perawatan dan pengobatan, dan untuk meminta atau menolak pengobatan, terapi, atau prosedur yang direkomendasikan oleh penyedia layanan kesehatan. 

Baik rawat jalan maupun rawat inap sama-sama bertujuan menyembuhkan pasien. Namun ada beberapa alasan kenapa pasien lebih memilih rawat jalan, salah satunya adalah kenyamanan pasien ketika dirawat oleh keluarga di rumah. Tanpa harus bergantung pada jam besuk dan jarak antara rumah dan rumah sakit.  Mengajukan rawat jalan bisa dilakukan dengan syarat: 

  • Mendapat rekomendasi rawat jalan dari dokter spesialis sesuai bidang.
  • Menaati jadwal atau kontrol rutin yang diberikan dokter sampai sembuh.
  • Memastikan ketersediaan alat-alat medis di rumah untuk mendukung perawatan.

Meski demikian, berdasarkan standar pelayanan rumah sakit, sebaiknya pasien mengikuti saran dokter atau tenaga medis. Dengan kata lain, apabila pasien dinyatakan perlu mendapatkan rawat inap setelah berobat, maka segera siapkan diri untuk melakukan rawat inap. Begitu juga sebaliknya, ketika dokter menyarankan Anda rawat jalan, Anda cukup mengikuti alur pelayanan jenis perawatan yang berlaku di tiap-tiap klinik atau rumah sakit. 

Batasan waktu seorang pasien harus menjalani rawat jalan biasanya akan berdasarkan keputusan dokter dengan melihat kondisi kesehatannya. Jadi, tidak ada batasan waktu atau berapa lama pasien harus menjalani rawat jalan karena setiap pasien memiliki kondisi dan cara pemulihan yang berbeda-beda.

Untuk mendapatkan perlindungan kesehatan yang lebih optimal selain menjalani rawat jalan, Anda dapat menikmati kemudahan manfaat rawat inap di rumah sakit dengan mempercayakan hal ini pada AXA Mandiri melalui produk Asuransi Kesehatan Proteksi Ekstra dari AXA Mandiri.

Asuransi Kesehatan Proteksi Ekstra merupakan produk asuransi kesehatan yang memberi pertanggungan hingga usia 75 (tujuh puluh lima) tahun dengan Manfaat Asuransi berupa pembayaran selisih biaya dari peningkatan kelas Rawat Inap bagi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan). Dengan asuransi ini, Tertanggung dapat mengakses kelas Rawat Inap di atas kelas Rawat Inap BPJS Kesehatan yang menjadi haknya. Selain itu, produk ini juga memberikan sejumlah manfaat lain yaitu manfaat ambulans, Evakuasi Medis dan repatriasi medis, Repatriasi Jenazah, dan santunan hospital cash plan.

Konsultasikan perencanaan finansial Anda dalam memilih produk asuransi kesehatan dengan Life Planner dan Financial Advisor AXA Mandiri yang akan membantu Anda memahami manfaat asuransi dan memberikan solusi terbaik sesuai dengan kondisi finansial Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.

Sumber:

  • https://www.halodoc.com/artikel/rawat-jalan-pengertian-jenis-dan-manfaatnya?srsltid=AfmBOoqFCGYMOQq_H6uG6PS2yTntKE3ZDQDNZYBS-GtX8CmUUQbnCuH5
  • https://www.rsbudimedika.com/perbedaan-rawat-inap-dan-rawat-jalan/
  • https://www.alodokter.com/flu
  • https://www.alodokter.com/diare
  • https://www.alodokter.com/radang-tenggorokan
  • https://www.halodoc.com/kesehatan/sakit-maag?srsltid=AfmBOor7fdtwV_aNtMS_hAnTKhl3wNdpaeqlg0YWd4YbuaKZxQSvz1Zt
  • https://rspp.co.id/artikel-detail-649-Ciri-Ciri-Penyakit-Tipus-Kenali-Gejalanya-Agar-Tidak-Terlambat-Ditangani.html
  • https://www.alodokter.com/cacar-air
  • https://www.axa-mandiri.co.id/-/apa-sih-rawat-jalan-itu
  • https://www.alodokter.com/demam