Hipotensi: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi & Mencegahnya!
Hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di bawah batas normal, yang sering kali dianggap sepele karena tidak selalu menimbulkan keluhan serius. Padahal, pada kondisi tertentu, hipotensi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari hingga memicu masalah kesehatan yang lebih serius jika tidak ditangani dengan tepat. Tekanan darah yang terlalu rendah bisa membuat aliran darah ke organ vital berkurang sehingga tubuh tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi secara optimal.
Untuk memahami kondisi ini lebih dalam, penting mengenal apa itu hipotensi, gejala yang sering muncul, dan berbagai penyebab yang mendasarinya. Selain itu, penting bagi Anda untuk mengetahui cara mengatasi hipotensi saat gejala muncul dan langkah-langkah pencegahannya, agar dapat menjaga tekanan darah tetap stabil dan tubuh tetap bugar dalam jangka panjang. Dengan pemahaman yang tepat, risiko akibat hipotensi dapat diminimalkan sejak dini.
Darah rendah atau hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah di dalam arteri lebih rendah daripada tekanan darah normal, yaitu kurang dari 90/60 mmHg. Hipotensi sendiri bisa menyerang siapa saja dan sering muncul tanpa gejala. Penyebabnya pun beragam, ada beberapa kondisi kesehatan yang bisa menyebabkan tekanan darah menurun.
Pada beberapa orang, hipotensi dapat memicu keluhan seperti pusing, lemas, bahkan hingga menyebabkan pingsan. Dalam beberapa kasus, hipotensi bisa menjadi tanda dari suatu penyakit atau kondisi yang sedang diderita. Bahkan pada beberapa kasus yang parah, hipotensi dapat mengancam nyawa sehingga butuh ditangani segera.
Pada dasarnya, tekanan darah normal berkisar antara 90/60 mmHg dan 120/80 mmHg. Seseorang dapat dikatakan menderita hipotensi jika tekanan darahnya berada di bawah rentang tersebut.
Umumnya hipotensi tidak selalu menimbulkan gejala, namun penting untuk meningkatkan kewaspadaan. Dilansir dari beberapa sumber, berikut gejala hipotensi yang perlu Anda ketahui:
Tekanan darah dapat berubah sepanjang waktu, tergantung kondisi dan aktivitas yang dilakukan. Perubahan pada tekanan darah merupakan hal yang normal, karena tekanan darah dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keturunan atau pertambahan usia. Dilansir dari beberapa sumber, berikut penyebab hipotensi yang perlu diketahui.
Kondisi ini bisa terjadi ketika seseorang mengalami cedera parah dan mengalami pendarahan. Kehilangan banyak darah akibat cedera besar atau pendarahan internal dapat menurunkan volume darah dan aliran darah ke berbagai jaringan tubuh tidak akan optimal. Hal ini dapat menyebabkan tekanan darah dalam tubuh menurun secara drastis.
Demam, muntah, diare berat, konsumsi obat diuretik, dan olahraga berat adalah sejumlah faktor penyebab dehidrasi. Ketika tubuh mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi dapat mengakibatkan penurunan volume darah dalam tubuh. Akibatnya, tubuh akan terasa lemas, mudah lelah, dan pusing.
Masalah pada jantung seperti bradikardia (denyut jantung yang rendah), gagal jantung, serangan jantung, dan lain sebagainya bisa membuat fungsi jantung tidak berjalan optimal. Akibatnya, kondisi tersebut dapat mempengaruhi tekanan darah tubuh seperti menyebabkan penyakit hipotensi.
Tekanan darah rendah atau hipotensi juga bisa dialami ibu yang sedang dalam masa kehamilan. Umumnya, hipotensi akan terjadi pada ibu yang memasuki usia kehamilan 1 sampai dengan 24 minggu. Sistem peredaran darah ibu hamil akan meluas dengan cepat sehingga berdampak pada tekanan darahnya.
Hipotensi yang terjadi pada ibu hamil merupakan hal wajar. Biasanya, tekanan darah akan kembali normal setelah melahirkan. Meski begitu, ibu hamil tetap disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi tubuhnya tidak mempengaruhi kesehatan janin.
Kekurangan hemoglobin bisa mengakibatkan tekanan darah menurun. Hal ini dikarenakan, hemoglobin yang berada di bawah batas normal membuat tubuh tidak memiliki cukup darah untuk dialirkan. Dengan begitu, tekanan darah juga ikut menurun. Selain itu, kekurangan nutrisi seperti vitamin B12 dan asam folat juga bisa menyebabkan anemia yang berakhir pada penurunan tekanan darah.
Infeksi yang terjadi pada organ vital juga bisa mengganggu aliran darah yang mengakibatkan terjadinya hipotensi. Kondisi tersebut biasa dikenal dengan istilah syok septik. Jika bakteri menginfeksi dengan cukup parah, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan organ atau bahkan kematian. Maka dari itu, infeksi tersebut perlu ditangani secara medis sesegera mungkin.
Anafilaksis adalah reaksi alergi parah dan berpotensi mengancam jiwa. Kondisi ini bisa disebabkan karena alergi makanan, obat-obatan tertentu, racun serangga, dan lateks. Anafilaksis dapat menyebabkan masalah pernapasan, gatal-gatal, tenggorokan bengkak, dan penurunan tekanan darah ekstrem.
Tekanan darah dapat menurun akibat penurunan kadar hormon dalam darah. Penurunan kadar hormon sendiri dapat disebabkan oleh beberapa penyakit seperti diabetes dan penyakit tiroid. Kondisi tiroid seperti penyakit paratiroid, penyakit Addison, gula darah rendah (hipoglikemia) atau diabetes dapat memicu tekanan darah rendah.
Selain kondisi kesehatan di atas, beberapa obat tertentu juga bisa menyebabkan tekanan darah rendah. Obat-obat tersebut, antara lain:
Dokter akan melakukan serangkaian pengobatan untuk pasien apabila sudah dipastikan terkena penyakit hipotensi. Pengobatan yang akan dilakukan untuk mengatasi tekanan darah rendah, yaitu:
Dokter biasanya akan meresepkan obat-obatan untuk mempersempit pembuluh darah sehingga tekanan darah bisa meningkat seperti vasopressin, catecholamine, dan lain-lain. Selain itu, dokter juga bisa memberikan obat-obatan yang membantu ginjal menyimpan cairan dan darah dalam tubuh.
Cara mengatasi tekanan darah rendah (hipotensi) ini dikenal dengan istilah resusitasi cairan. Prosedurnya dilakukan dengan cara memasukkan cairan ke dalam aliran darah melalui infus.
Mencegah hipotensi dapat dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa cara mencegah hipotensi, seperti:
Pada akhirnya, mencegah hipotensi bukan hanya tentang menjaga pola makan, cukup minum, dan mengatur gaya hidup sehat, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga. Pemeriksaan rutin dan penanganan medis yang tepat sangat berperan dalam mencegah komplikasi yang lebih serius akibat tekanan darah rendah.
Disinilah asuransi kesehatan menjadi bagian penting dari upaya perlindungan diri. Dengan memiliki asuransi kesehatan, Anda dapat mengakses layanan medis, konsultasi dokter, hingga perawatan lanjutan tanpa harus terbebani biaya besar.
Salah satu produk asuransi yang bisa jadi pertimbangan adalah Asuransi Kesehatan Proteksi Ekstra dari AXA Mandiri. Asuransi Kesehatan Proteksi Ekstra dari AXA Mandiri memberikan fleksibilitas lebih besar, seperti akses ke rumah sakit swasta, pilihan dokter spesialis, dan layanan rawat inap yang lebih nyaman.
Kombinasi antara BPJS dan asuransi swasta dapat menjadi solusi ideal, di mana Anda bisa mendapatkan manfaat tambahan seperti layanan rawat inap yang lebih nyaman, pemindahan pasien dengan ambulans, hingga proses upgrade kelas ke satu tingkat diatasnya (Kelas I dan VIP) yang lebih cepat.
Bagi Anda yang ingin meningkatkan kenyamanan dalam penggunaan BPJS Kesehatan, Anda bisa mendaftarkan diri ke dalam Asuransi Kesehatan Proteksi Ekstra. Konsultasikan kebutuhan asuransi Anda dan keluarga dengan Life Planner atau Financial Advisor AXA Mandiri. Kami akan membantu Anda untuk memahami produk asuransi terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: