Aset Penerbit

Aset Penerbit

Mengatasi Mual & Muntah Saat Puasa dan Apakah Puasa Jadi Batal?

Inspirasi

Pernahkah Anda merasa mual yang hebat hingga ingin muntah saat berpuasa? Kondisi ini sering kali menjadi kekhawatiran besar bagi umat Muslim, bukan hanya karena rasa tidak nyaman di perut, tetapi juga karena munculnya keraguan: "Apakah puasa saya masih sah?" Memahami respon tubuh dan aturan dasarnya sangat penting agar ibadah tetap berjalan lancar tanpa gangguan kesehatan yang berarti.

Apakah muntah saat puasa batal?

Muntah adalah keluarnya isi perut melalui mulut yang biasanya terjadi karena penyakit, rasa mual, atau bahkan kebiasaan tertentu. Dalam konteks puasa, muntah ternyata telah diatur dengan jelas dalam syariat Islam. Ada dua kategori utama, yaitu muntah yang disengaja dan tidak disengaja.

Pemahaman mengenai perbedaan kedua jenis muntah ini sangat penting, karena menentukan apakah muntah tersebut membatalkan puasa atau tidak. Dilansir dari Halodoc, berikut penjelasan apakah muntah membatalkan puasa?

1. Muntah yang disengaja

Muntah yang disengaja adalah muntah yang diusahakan oleh seseorang seperti memasukkan jari ke dalam mulut dengan tujuan untuk memuntahkan isi perut. Kondisi muntah seperti ini dinilai bisa membatalkan puasa. Pasalnya, tindakan ini dilakukan seseorang secara sadar untuk memuntahkan isi perut. Oleh karena itu, jika seseorang sengaja muntah, maka puasanya batal dan harus mengganti puasa di hari lain.

2. Muntah yang tidak disengaja

Muntah yang tidak disengaja terjadi tanpa adanya usaha untuk memuntahkan isi perut. Umumnya, muntah yang tidak disengaja bisa disebabkan karena penyakit, mual, atau kondisi tertentu yang di luar kendali. Kondisi yang tidak disengaja seperti ini tidak membatalkan puasa dan puasanya tetap sah tanpa perlu diganti. 

Jika Anda mengalami muntah saat puasa, segera keluarkan sisa-sisa makanan yang ada di mulut, kemudian kumur-kumur dengan air untuk membersihkan sisa muntahan. Jangan sampai sisa muntah tertelan kembali, namun jika tidak sengaja tertelan, puasa pun tidak dianggap batal dan tetap sah dilanjutkan.

Cara mencegah muntah saat puasa

Puasa adalah keadaan di mana seseorang tidak makan maupun minum, mulai dari berakhirnya sahur hingga waktu berbuka. Puasa bagi umat muslim bisa berlangsung hingga belasan jam sehingga selama periode tersebut perut menjadi kosong dan dapat menyebabkan naiknya asam lambung. Asam lambung naik adalah kondisi yang terjadi ketika asam lambung naik dari lambung ke esofagus (kerongkongan).

Salah satu fungsi makanan adalah untuk menetralisir tingkat keasaman (pH) dalam perut karena produksi asam lambung. Perut yang tidak terisi, pola makan tidak teratur, atau bahkan makan terlalu kenyang dapat menyebabkan asam lambung naik. Jangan dulu membatalkan puasa, dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa cara praktis yang bisa dilakukan untuk mengatasi muntah selama berpuasa.

1. Menghirup minyak esensial

Menghirup minyak esensial bisa menjadi salah satu cara mengusir mual dan muntah selama berpuasa. Aroma minyak esensial dapat membuat Anda bernapas dengan lebih lega sehingga meredakan mual.  Dari banyaknya jenis minyak esensial, minyak peppermint dipercaya paling ampuh untuk meredakan mual. Anda hanya perlu meneteskan minyak peppermint di dalam mangkuk air panas, lalu hirup uapnya secara perlahan.

2. Mengatur napas

Cara lain yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi mual dan mencegah muntah saat puasa adalah dengan mengatur napas. Mengutip studi dalam Complementary Therapies in Clinical Practice, bernapas teratur sudah cukup untuk menghilangkan mual pada pasien yang sedang menjalani kemoterapi. Pertama-tama, cobalah menarik napas dalam-dalam melalui hidung, kemudian hembuskan napas perlahan lewat mulut. Ulangi secara perlahan setidaknya selama 5 menit atau sampai rasa mual perlahan mereda.

3. Alihkan perhatian sejenak

Mengalihkan pikiran sejenak juga bisa mengurangi sensasi mual saat puasa.  Coba alihkan perhatian Anda dengan menonton film, mengobrol dengan teman, atau berjalan kaki keluar untuk menghirup udara segar. Fokus melakukan hal lain bisa membantu meredakan rasa tidak nyaman di perut.

4. Berbaring dengan posisi kepala lebih tinggi

Cobalah beristirahat sebentar, namun hindari membaringkan tubuh sepenuhnya. Berbaringlah dengan posisi kepala lebih tinggi dibandingkan dengan lambung untuk mencegah asam lambung naik ke kerongkongan dan memicu mual dan muntah.

5. Buka puasa tepat waktu & makan dengan porsi kecil terlebih dahulu

Ketika sudah memasuki waktu berbuka, segera makan agar perut terisi dan tidak dibiarkan kosong terlalu lama. Perhatikan juga menu buka puasa yang dikonsumsi, hindari makanan berlemak, pedas, dan berminyak. Selain itu, mengonsumsi diet rendah karbohidrat juga dapat membantu.

Selain itu, pastikan juga tidak langsung makan dengan porsi besar. Anda bisa mulai dengan porsi kecil namun sering untuk mengurangi tekanan di lambung, serta mencegah naiknya asam lambung. Namun, pastikan waktu makan terakhir tidak dekat dengan waktu tidur. Sebaiknya, hindari makan pada 1–2 jam sebelum tidur.

6. Istirahat yang cukup selama bulan Ramadan

Banyak orang yang mengalami istirahat tidak cukup selama bulan Ramadan dan harus bangun lebih pagi untuk sahur. Agar Anda tidak mudah mual dan muntah saat puasa, usahakan untuk istirahat yang cukup dan menghindari stres. Pikiran yang tenang dapat membantu mengontrol asam lambung agar tidak naik. Selain itu, atur waktu tidur sebaik mungkin agar kualitas tidur tetap terjaga.

Larangan yang perlu dihindari saat puasa

Banyak orang mengalami gangguan pencernaan selama puasa seperti nyeri ulu hati, refluks asam, mual, muntah, dan sakit perut. Gangguan ini umumnya bisa menyebabkan muntah saat puasa. Agar tidak mengalami muntah, berikut larangan yang perlu dihindari saat berpuasa dilansir dari beberapa sumber.

1. Menjaga hidrasi tubuh

Salah satu cara mengatasi asam lambung saat berpuasa adalah dengan minum lebih banyak air putih. Ini sangat penting untuk menjaga hidrasi dan mengembalikan cairan tubuh yang hilang selama puasa. Anda bisa menerapkan metode 2-4-2 yaitu 2 gelas saat sahur, 4 gelas di malam hari, dan 2 gelas saat buka puasa untuk mengurangi risiko dehidrasi. Pastikan untuk menegak air putih sedikit demi sedikit agar memudahkan tubuh menyerapnya.

Hindari juga minuman bersoda dan kafein secara berlebih karena bisa menyebabkan asam lambung naik saat puasa. Bahkan, minuman ini bisa memicu kram dan diare apabila dikonsumsi saat perut kosong.

2. Hindari tidur setelah makan

Sebaiknya Anda tidak tidur setelah sahur atau berbuka untuk mencegah asam lambung naik. Cobalah untuk menunggu sekitar 2-3 jam apabila ingin tidur. Perut yang terlalu kenyang bisa menghambat sistem pekerjaan sehingga tidak mampu bekerja dengan baik. Jika kebiasaan buruk ini terus dilakukan, asam lambung yang naik bisa mengakibatkan kondisi medis serius hingga berakibat fatal.

3. Hindari makan berlemak

Hindari makanan berlemak tinggi terutama saat berbuka puasa, misalnya gorengan atau makanan cepat saji. Makanan ini dapat mengandung tinggi kalori yang berbahaya bagi kesehatan apabila mengonsumsinya terlalu banyak. Jenis makanan ini juga membuat Anda mudah lesu, sakit perut, dan mual saat berpuasa. Sebab, makanan tinggi lemak membutuhkan waktu lama untuk dicerna oleh tubuh. 

4. Tidak makan berlebihan

Makan secara berlebihan saat berbuka puasa juga bisa menyebabkan kram perut dan refluks asam. Jika kebiasaan ini dilakukan secara terus-menerus, asam lambung dapat naik ke tenggorokan dan merusak jaringan di sekitarnya dalam jangka waktu lama. Saat berbuka puasa, pastikan untuk makan secara perlahan-lahan dan tidak berlebihan. Anda bisa menyiapkan makan dalam porsi secukupnya dan minum air putih terlebih dahulu sebelum makan.

5. Hindari bau yang tajam dan menyengat

Bau-bauan yang tajam seperti parfum atau aroma makanan yang kuat bisa memicu rasa mual.  Hindari lingkungan dengan bau yang kuat dan pastikan ruangan tempat kamu berada memiliki sirkulasi udara yang baik.

Menghindari berbagai larangan dan kebiasaan buruk selama berpuasa bukan hanya soal menjaga pahala, tetapi juga bentuk tanggung jawab kita dalam menjaga amanah berupa kesehatan tubuh. Namun, kita harus tetap realistis bahwa risiko kesehatan atau gangguan medis mendadak bisa terjadi kapan saja, bahkan saat kita sudah berusaha hidup disiplin.

Untuk memberikan ketenangan pikiran yang lebih menyeluruh, tidak ada salahnya melengkapi proteksi diri Anda dan keluarga dengan asuransi kesehatan. Dengan memiliki perlindungan asuransi, Anda tidak perlu cemas memikirkan biaya medis yang tak terduga, sehingga Anda bisa sepenuhnya fokus pada pemulihan kesehatan dan fokus menjalankan ibadah di bulan yang suci ini.

Salah satu produk asuransi yang bisa Anda pertimbangkan adalah Asuransi Mandiri Solusi Kesehatan dari AXA Mandiri. Produk asuransi ini memberikan manfaat penggantian biaya harian kamar rawat inap Rumah Sakit, penggantian biaya harian kamar unit perawatan intensif, penggantian biaya pembedahan, santunan meninggal dunia karena Kecelakaan, penggantian biaya transportasi ke Rumah Sakit untuk setiap rawat inap serta manfaat pengembalian premi dengan ketentuan sebagaimana diatur di dalam Polis.

Dengan premi mulai dari Rp65ribuan per bulan, produk asuransi ini dapat memberikan pertanggungan hingga usia tertanggung mencapai 65 (enam puluh lima) tahun. Masa asuransi produk ini adalah 1 (satu) tahun dan diperpanjang secara otomatis pada saat Ulang Tahun Polis.

Untuk konsultasi lebih lanjut tentang Asuransi Mandiri Solusi Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya, hubungi Life Planner atau Financial Advisor AXA Mandiri. Kami akan membantu Anda untuk memahami produk asuransi terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.

Sumber:

  • https://www.halodoc.com/artikel/apakah-muntah-membatalkan-puasa-ini-penjelasannya
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/asam-lambung-naik-saat-puasa
  • https://ciputrahospital.com/mual-saat-puasa/
  • https://hellosehat.com/pencernaan/pencernaan-lainnya/mual-saat-puasa/