Aset Penerbit

Aset Penerbit

Perbedaan IGD dan UGD, Layanan Gawat Darurat di Rumah Sakit

Artikel Inspirasi

Artikel Inspirasi

Perbedaan IGD dan UGD, Layanan Gawat Darurat di Rumah Sakit

05 Mei 2026

Share This Article :

Perbedaan IGD dan UGD sering kali masih membingungkan bagi banyak orang, terutama saat menghadapi kondisi darurat dan harus segera mencari pertolongan medis. Pada dasarnya, IGD (Instalasi Gawat Darurat) dan UGD (Unit Gawat Darurat) sama-sama merupakan layanan di rumah sakit yang menangani pasien dengan kondisi darurat.

Rangkuman:

  • IGD dan UGD memiliki fungsi yang sama yaitu menangani pasien dengan kondisi medis yang mengancam nyawa dengan cepat dan segera. 
  • Perbedaan IGD dan UGD terletak pada cakupan layanan dan fasilitas. IGD umumnya memiliki fasilitas lebih lengkap, tenaga medis siaga 24 jam, serta menangani kasus yang lebih serius. Sedangkan UGD cenderung menangani kondisi darurat yang lebih ringan hingga sedang.
  • Dari sisi biaya, layanan IGD biasanya memiliki biaya awal lebih rendah, sedangkan UGD bisa lebih mahal tergantung tindakan dan pemeriksaan yang dilakukan. Keduanya dapat ditanggung BPJS Kesehatan selama memenuhi kriteria kegawatdaruratan. 

Memahami perbedaan IGD dan UGD juga penting agar masyarakat mengetahui kapan harus datang ke fasilitas tersebut serta bagaimana prosedur penanganannya. Selain itu, banyak orang juga mempertanyakan bagaimana biaya pengobatan di IGD dan UGD, apakah berbeda atau tidak, serta faktor apa saja yang memengaruhi biaya perawatan darurat di rumah sakit. 

Apa itu IGD dan UGD

UGD (Unit Gawat Darurat) dan IGD (Instalasi Gawat Darurat) merupakan bagian dari rumah sakit yang menyediakan pelayanan medis segera bagi pasien dengan kondisi yang mengancam nyawa atau berpotensi menyebabkan kecacatan permanen jika tidak ditangani dengan cepat.

Secara fungsi, UGD dan IGD memiliki peran yang sama yaitu memberikan pertolongan pertama dan stabilisasi kondisi pasien sebelum dipindahkan ke unit perawatan yang lebih spesifik seperti ICU (Intensive Care Unit) atau ruang rawat inap.

UGD adalah unit layanan yang memberikan pelayanan medis darurat dengan skala yang lebih kecil dibandingkan IGD. UGD biasanya menangani pasien dengan kondisi darurat yang tidak terlalu kompleks seperti luka ringan, demam tinggi, atau nyeri perut.

Sedangkan IGD adalah layanan rumah sakit yang menangani pasien dengan kondisi medis yang mengancam nyawa dengan cepat dan segera. Di sini, pasien mendapatkan perawatan darurat dan diagnosis cepat untuk menentukan langkah selanjutnya dalam perawatan mereka. 

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Kegawatdaruratan, fasilitas pelayanan gawat darurat memiliki tingkat yang berbeda yang dipisahkan sesuai prioritas, yaitu:

  • Prioritas 1 untuk yang benar-benar Gawat Darurat atau true emergency
  • Prioritas 2 yang gawat tetapi tidak darurat atau urgent
  • Prioritas 3 yang tidak gawat maupun darurat atau false emergency.

Seluruh pasien prioritas 1 tidak bisa menunggu dan butuh penanganan langsung (zero minute response). IGD selalu dijaga oleh tenaga medis yang siap siaga 24 jam dan peralatan medis lebih lengkap dibandingkan UGD untuk menangani berbagai kondisi darurat.

Umumnya, IGD berfungsi sebagai pintu masuk pertama untuk pasien yang membutuhkan perawatan darurat serta dapat memberikan perawatan medis langsung kepada pasien yang mengalami kondisi kritis seperti kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, stroke, cedera parah, dan reaksi alergi berat.  Di IGD, dokter dan perawat bekerja cepat untuk menstabilkan kondisi pasien dan menentukan apakah mereka perlu dirawat lebih lanjut atau bisa pulang setelah mendapatkan perawatan awal.

Perbedaan IGD dan UGD

Meski sama-sama memberikan penanganan cepat untuk pasien gawat darurat, IGD dan UGD memiliki fungsi dan fasilitas yang berbeda. Untuk memahami perbedaan tersebut, berikut penjelasan lengkap mengenai masing-masing ruang darurat yang dilansir dari Alodokter.

1. Berdasarkan istilah yang digunakan di berbagai daerah

Perbedaan IGD dan UGD berikutnya adalah penggunaan nama di daerah tertentu. Meskipun istilah IGD kini lebih banyak digunakan, masih ada beberapa rumah sakit di daerah yang tetap memakai istilah UGD, terutama fasilitas yang belum memperbarui sistem administratifnya. Namun, hal ini tidak berpengaruh terhadap kualitas atau jenis layanan yang diberikan.

Baik Anda menemukan tulisan IGD maupun UGD, keduanya tetap merujuk pada tempat layanan medis darurat yang sama, dengan standar pelayanan sesuai regulasi Kementerian Kesehatan.

2. Letak dan fasilitas

IGD atau UGD biasanya berada di bagian depan rumah sakit, dekat dengan akses jalan utama agar mempermudah pasien atau ambulans masuk. Di dalamnya tersedia berbagai fasilitas penting, seperti:

  • Ruang triase untuk penilaian awal kondisi pasien
  • Ruang resusitasi dengan alat bantu napas dan defibrillator
  • Ruang observasi dan tindakan medis cepat
  • Peralatan medis darurat seperti alat pacu jantung, oksigen, serta peralatan bedah minor

Selain itu, IGD atau UGD juga terhubung langsung dengan laboratorium, radiologi, dan ruang operasi untuk mempercepat proses diagnosa serta tindakan medis lanjutan. Namun, dari segi fasilitas, UGD memiliki perlengkapan medis yang lebih lengkap dari pada IGD.

Di ruang UGD, tersedia berbagai alat pemeriksaan seperti tes laboratorium dasar, sinar-X, hingga monitor ICU untuk memantau kondisi pasien sebelum pindah ke ruang perawatan intensif. Selain itu, UGD juga dilengkapi dengan alat rekam jantung (EKG), defibrillator untuk kejut jantung, serta ruang tindakan darurat untuk operasi kecil atau prosedur medis segera.

3. Kondisi yang ditangani

Berikut beberapa kondisi medis yang paling sering ditangani di Unit Gawat Darurat (UGD) tangani:

  • Gangguan pernapasan akut seperti asma, bronkitis, atau pneumonia.
  • Kondisi jantung seperti nyeri dada, gangguan irama jantung, dan serangan jantung.
  • Masalah pencernaan seperti sakit perut hebat, muntah, dan diare berat.
  • Gangguan saraf seperti sakit kepala parah, kejang, dan stroke.
  • Cedera tulang dan sendi seperti patah tulang, terkilir, atau dislokasi.
  • Keracunan obat, alkohol, atau karbon monoksida.
  • Kondisi kejiwaan mendesak seperti serangan panik, depresi berat, atau psikosis.
  • Cedera akibat kecelakaan seperti luka robek, memar, dan patah tulang.

Berbeda dengan UGD, Instalasi Gawat Darurat (IGD) biasanya menangani kasus medis yang tergolong ringan hingga sedang. Fasilitas ini menjadi tempat pertama bagi pasien yang membutuhkan pertolongan cepat, namun tidak dalam kondisi yang mengancam nyawa. Beberapa kondisi yang dapat IGD tangani antara lain:

  • Nyeri punggung atau otot.
  • Luka sayat atau luka bakar ringan.
  • Diare atau muntah-muntah.
  • Infeksi saluran pernapasan atas.
  • Infeksi saluran kemih.
  • Penyakit kulit ringan.
  • Keseleo atau nyeri sendi.
  • Sakit telinga.

4. Prosedur umum di UGD

Di UGD maupun IGD, tenaga medis melakukan berbagai prosedur penting untuk menstabilkan pasien dan menentukan langkah perawatan berikutnya. Prosedur yang umum dilakukan meliputi:

  • Manajemen jalan napas seperti pemasangan alat bantu napas atau intubasi.
  • Pemantauan jantung (EKG) untuk mendeteksi irama jantung tidak normal.
  • Pemasangan infus (IV access) guna memberikan cairan atau obat.
  • Tes darah untuk memeriksa infeksi atau kondisi medis lain.
  • Pemeriksaan pencitraan, seperti rontgen (X-ray), CT scan, atau USG.
  • Endoskopi untuk memeriksa organ dalam seperti lambung dan usus.
  • Tindakan bedah darurat seperti penanganan luka atau operasi kecil.

Biaya pengobatan di IGD dan UGD

Biaya dasar untuk layanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) di beberapa rumah sakit di Indonesia bisa dimulai dari beberapa puluh ribu rupiah misalnya awal IGD sekitar Rp25.000 per kunjungan. Sedangkan di Unit Gawat Darurat (UGD) yang lebih lengkap fasilitasnya, biaya bisa jauh lebih tinggi ketika termasuk tindakan observasi, alat, dan pemeriksaan lanjutan.

Terkait tanggungan oleh BPJS Kesehatan, layanan IGD dan UGD akan ditanggung BPJS Kesehatan jika kondisi pasien memenuhi kriteria kegawatdaruratan medis yang diakui. Namun, apabila pasien datang ke IGD/UGD dengan kondisi yang tidak tergolong darurat, maka kemungkinan biaya tidak BPJS tanggung dan pasien harus membayar sendiri.

Oleh karena itu penting bagi Anda untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk pergi ke IGD atau UGD agar pasien mendapatkan pertolongan secepatnya. Berikut beberapa kondisi yang harus segera ditangani layanan gawat darurat di rumah sakit:

  • Nyeri dada hebat atau mendadak (dugaan serangan jantung)
  • Sesak napas berat atau sulit bernapas
  • Penurunan kesadaran, pingsan, atau kejang berkepanjangan
  • Perdarahan hebat atau luka besar akibat kecelakaan
  • Cedera kepala, patah tulang, atau luka bakar luas
  • Gejala stroke seperti mulut mencong, bicara pelo, atau lemah separuh tubuh

Jika Anda atau keluarga mengalami gejala di atas, segera bawa ke IGD atau UGD terdekat untuk mendapatkan penanganan segera. Meski dapat ditanggung BPJS Kesehatan, terkadang penanganan medis di UGD/IGD juga membutuhkan tindakan segera, pemeriksaan tambahan, hingga rawat inap yang tentu dapat menimbulkan biaya yang tidak sedikit.

Karena itu, memiliki perlindungan finansial seperti asuransi kesehatan menjadi langkah penting untuk mengantisipasi risiko tersebut. AXA Mandiri hadir dengan produk Asuransi Kesehatan Proteksi Ekstra yang memberikan fleksibilitas lebih besar, seperti akses ke rumah sakit swasta, pilihan dokter spesialis, dan layanan rawat inap yang lebih nyaman.

Kombinasi antara BPJS dan asuransi swasta dapat menjadi solusi ideal, di mana Anda bisa mendapatkan manfaat tambahan seperti layanan rawat inap yang lebih nyaman, pemindahan pasien dengan ambulans, hingga proses upgrade kelas ke satu tingkat diatasnya (Kelas I dan VIP) yang lebih cepat. 

Bagi Anda yang ingin meningkatkan kenyamanan dalam penggunaan BPJS Kesehatan, Anda bisa mendaftarkan diri ke dalam Asuransi Kesehatan Proteksi Ekstra. Konsultasikan kebutuhan asuransi Anda dan keluarga dengan Life Planner atau Financial Advisor AXA Mandiri. Kami akan membantu Anda untuk memahami produk asuransi terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Q: Apa perbedaan IGD dan UGD?
A: Perbedaannya terletak pada fasilitas dan jenis kasus. IGD umumnya lebih lengkap dan menangani kasus berat atau mengancam nyawa, sedangkan UGD menangani kondisi darurat ringan hingga sedang.

Q: Apakah IGD dan UGD memiliki fungsi yang sama?
A: Ya. IGD dan UGD sama-sama berfungsi memberikan pertolongan pertama serta menstabilkan kondisi pasien yang mengalami keadaan darurat sebelum dirujuk ke unit lain seperti ICU atau rawat inap.

Q: Apakah biaya IGD dan UGD berbeda?
A: Biaya layanan IGD biasanya dimulai dari biaya administrasi dasar, sedangkan UGD dapat lebih tinggi karena fasilitas dan pemeriksaan yang lebih lengkap. Besarnya biaya tergantung pada tindakan medis, pemeriksaan lanjutan, serta kebutuhan rawat inap.

Q: Apakah layanan IGD dan UGD ditanggung BPJS Kesehatan?
A: Ya, selama kondisi pasien memenuhi kriteria kegawatdaruratan medis sesuai aturan BPJS Kesehatan. Jika kondisi tidak termasuk darurat, kemungkinan biaya tidak akan ditanggung sepenuhnya.

Q: Kenapa masih butuh asuransi swasta meskipun sudah memiliki BPJS Kesehatan?
A: Meskipun BPJS Kesehatan sudah memberikan perlindungan dasar, asuransi swasta tetap dibutuhkan sebagai pelengkap. Asuransi swasta menawarkan manfaat tambahan seperti akses langsung ke rumah sakit tanpa prosedur berjenjang, pilihan rumah sakit dan dokter yang lebih luas, serta kenyamanan layanan seperti upgrade kelas perawatan. 

Sumber:

  • https://www.halodoc.com/artikel/ugd-dan-igd-sering-dikira-sama-ini-perbedaan-keduanya
  • https://rsiakemang.id/artikel/detail?p=mengenal-perbedaan-igd-ugd-dan-icu-di-rumah-sakit
  • https://www.alodokter.com/perbedaan-igd-dan-ugd-kenali-fungsi-dan-layanannya
  • https://ciputrahospital.com/perbedaan-igd-dan-ugd/