Investasi Emas Fluktuatif, Ketahui Tren & Faktor Penyebabnya!
Investasi emas kembali menjadi sorotan di tengah fluktuasi pasar global dan gejolak nilai mata uang. Di Indonesia maupun dunia, tren investasi emas terus menunjukkan peningkatan karena dianggap sebagai aset aman yang nilainya relatif stabil. Namun, banyak yang bertanya-tanya, mengapa harga emas terus naik dan apakah investasi emas lebih menguntungkan dibandingkan menyimpan dolar?
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan, emas terbukti menjadi aset yang dapat melindungi nilai dan menjaga stabilitas portofolio. Tidak heran, aset satu ini terus mengalami peningkatan permintaan hingga akhir tahun ini.
Menurut data terbaru dari World Gold Council (WGC), permintaan global untuk emas sebagai instrumen investasi meningkat 78% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal II 2025. Lonjakan ini didorong oleh masuknya dana besar ke ETF berbasis emas, serta meningkatnya pembelian emas batangan dan koin.
Kondisi ini mengirimkan sinyal kuat bahwa investor global tengah mencari perlindungan dari risiko ekonomi dan geopolitik. Investor Indonesia pun ikut mengambil langkah serupa untuk melakukan diversifikasi portofolio dan memilih emas fisik digital. ANTAM dan beberapa perusahaan lain yang melakukan transaksi emas seperti Pegadaian Digital, Tokopedia Emas, dan Pluang juga melaporkan terjadinya lonjakan transaksi emas ritel, terutama dari kelompok usia 20–35 tahun.
Sekarang, generasi muda tidak lagi hanya berinvestasi di reksa dana atau saham, tetapi juga melihat investasi emas sebagai cara aman menjaga nilai uang dari inflasi. Banyak di antara mereka mulai mengombinasikan emas dengan instrumen lain seperti deposito dan reksa dana untuk menciptakan portofolio yang seimbang antara keamanan dan pertumbuhan. Permintaan tinggi terhadap emas bukan tanpa alasan. Menurut laporan WGC, sejumlah faktor utama yang mendorong tren ini antara lain:
Dalam laporan ini juga menjelaskan bahwa investor institusi dan investor kaya global (high net worth) terus menunjukkan ketertarikan pada emas. Hal ini tercermin dari tambahan permintaan sebesar 170 ton melalui saluran over-the-counter (OTC) dan bursa saham (ETF).
Emas seringkali dipilih sebagai instrumen investasi oleh berbagai kalangan karena nilainya yang stabil. Popularitas emas di pasar global semakin meningkat seiring dengan kondisi ekonomi yang tidak kondusif dalam beberapa waktu terakhir. Dalam situasi ketidakstabilan ekonomi dan politik, banyak investor menjadikan emas sebagai aset safe haven. Dilansir dari beberapa sumber, berikut faktor yang menyebabkan harga emas dapat meningkat, baik secara harian maupun secara akumulasi tahunan.
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas adalah kebijakan moneter yang diterapkan oleh Amerika Serikat, khususnya oleh Federal Reserve (The Fed). Kebijakan moneter seperti perubahan suku bunga memiliki dampak langsung terhadap harga emas.
Ketika The Fed menurunkan suku bunga, emas menjadi lebih menarik bagi para investor karena instrumen ini tidak memberikan imbal hasil. Investor akan cenderung mengalihkan asetnya ke emas karena dianggap dapat melindungi nilai aset. Sebaliknya, ketika suku bunga naik maka investor akan berbondong-bondong menaruh aset mereka pada obligasi pemerintah yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih tinggi. Namun, ada kalanya harga emas tetap naik meskipun suku bunga sedang tinggi, terutama ketika kebijakan menimbulkan ketidakpastian ekonomi.
Ketika terjadi ketidakpastian global seperti perang, krisis keuangan, atau ketegangan perdagangan internasional, investor cenderung beralih ke emas sebagai aset safe haven. Emas dianggap sebagai aset safe haven artinya harga emas lebih stabil, tidak terpengaruh inflasi sehingga bisa melindungi nilai aset dan lebih aman.
Hal ini juga terjadi pada situasi geopolitik yang tidak stabil, seperti ketegangan di Timur Tengah yang kembali bergejolak atau konflik antara negara besar. Harga emas akan cenderung naik sebagai respons terhadap peningkatan permintaan terhadap emas.
Kenaikan harga emas juga dapat dipengaruhi oleh inflasi. Ketika inflasi tinggi, nilai mata uang melemah, sehingga membuat daya beli masyarakat dan motivasi menabung menurun. Kondisi ini mendorong para investor beralih ke emas yang nilainya lebih stabil, bahkan cenderung naik seiring dengan peningkatan harga barang atau jasa.
Namun, tingkat inflasi tidak selalu menjadi faktor penyebab langsung naiknya harga emas di pasaran. Ada kalanya harga emas tidak bergerak signifikan meskipun inflasi tinggi, karena dipengaruhi oleh faktor lain. Oleh karena itu, penting untuk meninjau kondisi perekonomian global secara keseluruhan.
Permintaan pasar menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga emas naik. Permintaan ini datang dari berbagai sektor seperti perhiasan, investasi, dan industri. Di negara-negara seperti India dan China, permintaan emas untuk perhiasan sangat tinggi, terutama selama musim pernikahan dan perayaan festival. Selain itu, permintaan dari sektor investasi juga berperan penting. Ketika investor global merasa tidak yakin terhadap keamanan aset lain, mereka cenderung membeli emas sebagai bentuk perlindungan nilai.
Emas merupakan logam mulia yang termasuk dalam sumber daya alam terbatas. Produksi emas global diperkirakan telah mencapai puncaknya dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan hasil produksi emas inilah yang menyebabkan pasokan emas semakin terbatas dan menjadi salah satu alasan kenapa harga emas naik.
Selain itu, biaya produksi dan penambangan emas semakin meningkat karena tambang-tambang emas yang mudah diakses perlahan telah habis. Tambang yang tersisa sekarang berada di lokasi yang lebih sulit dijangkau dan membutuhkan biaya operasional tinggi. Meningkatnya biaya produksi dan minimnya pasokan emas menyebabkan harga emas diproyeksikan akan terus naik.
Banyak orang yang bertanya-tanya, mana instrumen investasi yang lebih baik antara emas atau dollar. Jawabannya kembali lagi kepada diri Anda sendiri karena semuanya tergantung pada tujuan investasi yang telah ditentukan sejak awal.
Emas dan dollar sebenarnya sama-sama mengutungkan. Hanya saja, nilai valuta asing (dolar Amerika Serikat) lebih fluktuatif jika dibandingkan emas. Di samping itu, nilai dolar AS dapat jatuh secara signifikan ketika terjadi gejolak perekonomian yang dipengaruhi oleh berbagai faktor di sektor sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain. Sementara emas memiliki nilai yang lebih stabil ketika ekonomi sedang tidak stabil. Emas pun rendah risiko sehingga bisa menjadi pilihan investasi aman untuk pemula.
Namun, apapun instrumen investasinya, Anda perlu mempertimbangkan untuk menambah perlindungan atas setiap aset yang Anda bangun. Anda bisa mempertimbangkan asuransi berbasis dollar untuk memberikan perlindungan terhadap risiko finansial, sekaligus memungkinkan investasi Anda tetap tumbuh. AXA Mandiri hadir dengan produk Asuransi Mandiri Wealth Signature USD yang akan membantu Anda menjaga stabilitas finansial sekaligus mendapat perlindungan jiwa dalam mata uang Dolar Amerika Serikat (USD), melindungi orang-orang tercinta dengan perencanaan masa depan yang mencerminkan karakter dan visi pribadi.
Produk ini merupakan Asuransi Dwiguna Kombinasi yang memberikan perlindungan jiwa berupa Manfaat Meninggal Dunia serta manfaat hidup berupa Manfaat Tunai Berkala, dan Manfaat Akhir Masa Asuransi. Dengan kombinasi proteksi dan saving, Anda dapat merancang strategi keuangan yang aman, likuid, dan menguntungkan untuk jangka panjang.
Untuk konsultasi lebih lanjut dan membangun strategi finansial yang sesuai tujuan hidup Anda dengan Asuransi Mandiri Wealth Signature USD, hubungi Life Planner atau Financial Advisor AXA Mandiri. Kami akan membantu Anda untuk memahami produk asuransi terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: