Waspada 10 Penyebab Darah Tinggi & Risiko Komplikasinya!
Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering kali muncul tanpa gejala, namun memiliki dampak serius jika diabaikan. Penyebab darah tinggi sangat beragam, mulai dari kebiasaan harian, kondisi kesehatan tertentu, hingga faktor genetik. Tidak hanya itu, banyak penyakit serius yang diawali dengan darah tinggi seperti stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal, yang menjadikan hipertensi sebagai kondisi yang perlu diwaspadai sejak dini. Karena itu, memahami sumber masalah sekaligus mengetahui cara mengontrol darah tinggi menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang dan mencegah komplikasi.
Dalam banyak kasus, penyebab darah tinggi belum diketahui secara pasti. Namun umumnya, darah tinggi bisa terjadi ketika seseorang memiliki gaya hidup tidak sehat seperti pola makan tinggi garam dan lemak jenuh, kurangnya aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan. Beberapa ahli juga mengungkapkan bahwa kombinasi beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko seseorang menderita darah tinggi. Dilansir dari beberapa sumber berikut penyebab darah tinggi dan faktor risikonya.
Tekanan darah tinggi sering menyerang orang dewasa dan lansia. Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah dapat menebal dan mengeras sehingga memicu tekanan darah menjadi tinggi. Penebalan pembuluh darah ini juga berdampak pada penurunan fungsi otak dan ginjal yang dapat mengganggu keseimbangan garam dan cairan dalam tubuh. Sementara itu, perubahan pada pembuluh darah akibat penuaan juga bisa menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi kaku.
Kedua kondisi tersebut mengakibatkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Hal inilah yang menyebabkan orang yang berusia lebih dari 35 tahun lebih berisiko mengalami darah tinggi. Selain orang dewasa, anak-anak juga berpotensi mengalami hipertensi. Biasanya terjadi ketika mereka memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
Secara umum, pria lebih berisiko mengalami tekanan darah tinggi dibanding wanita pada usia lansia. Namun, wanita memiliki risiko lebih besar mengalami hipertensi selama kehamilan. Dalam istilah medis, tekanan darah tinggi yang terjadi saat hamil memiliki sebutan hipertensi gestasional. Kondisi ini berbahaya bagi ibu hamil dan janin, serta bisa meningkatkan risiko komplikasi serius berupa preeklamsia.
Seseorang menjadi lebih rentan terkena darah tinggi jika memiliki orang tua atau anggota keluarga dengan riwayat mengidap darah tinggi. Mengutip dari National Heart, Lung, and Blood Institute, terdapat studi yang melaporkan bahwa janin di dalam kandungan bisa mengalami perubahan DNA yang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi di kemudian hari.
Tekanan darah tinggi bisa terjadi karena mengonsumsi makanan yang tidak sehat, terutama yang mengandung tinggi garam dan lemak jenuh. Banyak makanan cepat saji, makanan olahan, serta camilan ringan yang mengandung kadar natrium dan lemak trans yang tinggi seperti keripik kemasan, daging olahan, dan makanan cepat saji. Konsumsi makanan tersebut secara berlebih dapat menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah, mempersempit aliran darah, dan meningkatkan tekanan pada dinding arteri.
Kebiasaan mengonsumsi minuman manis dan bersoda juga dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah. Minuman tersebut tidak hanya tinggi gula, tetapi juga dapat meningkatkan risiko resistensi insulin yang terkait erat dengan hipertensi. Jarang mengonsumsi makanan tinggi kalium seperti bayam, salmon, dan kacang-kacangan, juga dapat menyebabkan kekurangan kalium. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena hipertensi.
Faktor penyebab hipertensi berikutnya yaitu mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat mempersulit tubuh dalam mengendalikan tekanan darah. Jenis obat ini dapat berupa antidepresan, dekongestan, pil KB hormonal, aspirin atau ibuprofen. Oleh sebab itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat-obatan tersebut.
Berat badan berlebih atau obesitas juga dapat meningkatkan risiko terkena darah tinggi. Semakin gemuk tubuh seseorang, maka semakin banyak darah yang diperlukan untuk memasok oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Ketika volume darah meningkat, tekanan dalam pembuluh darah pun akan meningkat.
Darah tinggi juga sering terjadi ketika seseorang jarang berolahraga atau melakukan aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik dan terlalu sering ‘rebahan’ dapat menyebabkan berat badan naik, penurunan fungsi jantung, dan meningkatnya resistensi insulin. Semua kondisi ini tentu berkaitan erat dengan tekanan darah tinggi.
Oleh karena itu, pastikan untuk melakukan olahraga atau aktivitas fisik rutin minimal 30 menit sehari seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang.
Kebiasaan gaya hidup buruk seperti merokok dan minum alkohol secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Zat kimia pada tembakau dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga meningkatkan tekanan dalam pembuluh darah dan jantung. Kondisi ini tidak hanya dapat dialami oleh perokok aktif, tetapi juga perokok pasif.
Begitu juga dengan konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi minuman beralkohol lebih dari 7 kali per minggu, berisiko tinggi mengalami hipertensi. Jika Anda berisiko memiliki tekanan darah tinggi, sebaiknya hindari atau membatasi asupan alkohol.
Penelitian membuktikan bahwa faktor sosial dan ekonomi bisa memengaruhi tekanan darah. Faktor-faktor ini meliputi tingkat pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, pendapatan, dan stres di tempat kerja.
Stres, sering cemas, dan kurang tidur merupakan beberapa faktor risiko yang cukup sering berkontribusi pada terjadinya darah tinggi. Hal ini diduga berkaitan dengan peningkatan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, saat seseorang mengalami stres berkepanjangan. Dalam jangka panjang, stres kronis dapat menyebabkan pola hidup tidak sehat seperti kurang tidur, merokok, atau konsumsi alkohol. Semua faktor ini dapat memperparah kondisi tekanan darah tinggi.
Mengingat tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit lain seperti penyakit jantung hingga stroke, mengenali dan menjauhi faktor risiko hipertensi dapat menjadi langkah yang baik untuk mencegah kondisi ini. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa penyakit berbahaya yang dapat muncul diawali dari hipertensi.
Orang yang memiliki tekanan darah tinggi lebih berisiko mengalami penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung, gagal jantung serta serangan jantung. Penebalan jantung akibat darah tinggi adalah salah satu pemicu kondisi-kondisi kronis ini. Penebalan dinding jantung (ventricular hypertrophy) membuat dinding jantung menjadi kaku dan membuat kerja jantung jadi lebih berat.
Setidaknya ada dua penyebab stroke. Penyebab pertama adalah penyumbatan pembuluh darah yang terjadi karena adanya plak pada pembuluh darah sehingga membuat otak tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Dan penyebab kedua adalah perdarahan di otak.
Tekanan darah tinggi dapat memicu kerusakan ataupun pecah pembuluh darah yang akhirnya memicu stroke, baik stroke penyumbatan maupun perdarahan.
Tekanan darah tinggi juga bisa menyebabkan gangguan pada mata, salah satunya retinopati hipertensi. Kondisi di mana tekanan darah tinggi merusak kumpulan pembuluh darah mikro di retina dan lapisan saraf retina.
Akibatnya penglihatan dapat menurun secara bertahap hingga menyebabkan kebutaan karena sel pada saraf mata sudah lumpuh. Selain itu, tekanan darah tinggi juga dapat memicu tekanan di dalam bola mata dan pembentukan gumpalan darah.
Akibat darah tinggi, pembuluh darah jadi menyempit, termasuk pembuluh darah di ginjal. Penyempitan pembuluh darah ini mengurangi alirah darah. Alhasil ginjal tidak lagi bisa berfungsi dengan baik.
Padahal, ginjal berperan penting untuk menyaring darah dan membuang limbah sisa hasil metabolisme. Ginjal yang rusak akan menyulitkan tubuh untuk menyaring zat-zat beracun yang dapat membahayakan kondisi kesehatan. Pada kondisi yang parah, hipertensi bisa menyebabkan gagal ginjal kronis.
Komplikasi hipertensi juga bisa menyebabkan aneurisma yaitu pembesaran atau penonjolan pembuluh darah di otak akibat lapisan dinding yang melemah. Penyebab kondisi ini belum diketahui secara pasti. Namun, faktor risiko yang meningkatkan gejalanya adalah menderita tekanan darah tinggi. Gejala aneurisma meliputi sakit di bagian mata, pusing, sulit berbicara, sulit fokus, dan penurunan daya ingat.
Hipertensi berhubungan erat dengan gangguan seksual, salah satunya adalah disfungsi ereksi. Kondisi ini disebabkan oleh rusaknya lapisan pembuluh darah sehingga arteri menjadi keras dan menyempit. Akibatnya, penis tidak memperoleh aliran darah yang cukup untuk mempertahankan ereksi.
Sindrom metabolik merupakan kumpulan gejala sistem kardiovaskular seperti obesitas sentral, tekanan darah tinggi, hiperglikemia, dan dislipidemia. Orang yang mengalami sindrom metabolik cenderung mengalami diabetes melitus tipe 2 yang dapat mengancam nyawa.
Tekanan darah tinggi bisa menimbulkan demensia atau penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini memiliki gejala seperti perubahan perilaku, gaya berbicara, dan masalah pada komunikasi. Kondisi ini juga tidak mudah dilakukan diagnosisnya karena memiliki gejala yang serupa dengan penyakit lain. Namun, untuk deteksi dini, Anda dapat menjalani tes pemeriksaan fisik dan penunjang berupa tes kognitif, pemindaian, pemeriksaan darah, dan tes psikiatri.
Penyakit ini merupakan kondisi ketika tubuh mengalami penyumbatan aliran darah ke tungkai atau tangan akibat penyempitan pembuluh darah di jantung. Kondisi ini mengakibatkan kesulitan berjalan dan disfungsi ereksi pada pria. Penyakit arteri perifer bisa terjadi akibat tingginya tekanan darah di dalam tubuh.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa adanya penurunan kemampuan kognitif pada orang yang memiliki tekanan darah tinggi. Penurunan kognitif ini bahkan bisa terjadi tanpa stroke maupun demensia. Penurunan kemampuan kognitif ditandai dengan berkurangnya kemampuan berpikir, berbahasa, hingga menurunnya daya ingat.
Ibu hamil dengan tensi tinggi juga dapat mengalami beberapa komplikasi seperti preeklamsia, eklamsia, stroke, dan plasenta lepas dari dinding rahim (solusio plasenta). Sementara itu, bayi di dalam kandungannya juga bisa berisiko lahir prematur hingga berat badan rendah saat lahir. Tekanan darah tinggi juga dapat mempersulit bayi untuk mendapatkan oksigen dan nutrisi untuk bertumbuh.
Anda bisa mengurangi risiko dan mengontrol tekanan darah agar tetap normal dengan beberapa cara seperti:
Pada akhirnya, menjaga tekanan darah tetap stabil bukan hanya soal menerapkan pola hidup sehat, tetapi juga tentang menyiapkan perlindungan jika risiko kesehatan muncul di kemudian hari. Meski berbagai cara mencegah tekanan darah tinggi dapat dilakukan mulai dari mengatur pola makan, rutin berolahraga, hingga mengelola stres—kondisi medis tetap bisa terjadi tanpa diduga.
Disinilah pentingnya memiliki asuransi kesehatan sebagai perlindungan yang tepat. Asuransi kesehatan membantu memastikan bahwa fokus Anda tetap pada pemulihan dan pencegahan komplikasi, tanpa terbebani oleh risiko finansial. Salah satu produk asuransi yang bisa Anda pertimbangkan adalah Asuransi Mandiri Solusi Kesehatan dari AXA MAndiri
Produk asuransi ini memberikan manfaat penggantian biaya harian kamar rawat inap Rumah Sakit, penggantian biaya harian kamar unit perawatan intensif, penggantian biaya pembedahan, santunan meninggal dunia karena Kecelakaan, penggantian biaya transportasi ke Rumah Sakit untuk setiap rawat inap serta manfaat pengembalian premi dengan ketentuan sebagaimana diatur di dalam Polis.
Dengan premi mulai dari Rp65ribuan per bulan, produk asuransi ini dapat memberikan pertanggungan hingga usia tertanggung mencapai 65 (enam puluh lima) tahun. Masa asuransi produk ini adalah 1 (satu) tahun dan diperpanjang secara otomatis pada saat Ulang Tahun Polis.
Bagi Anda yang tertarik dengan produk asuransi kesehatan dari AXA Mandiri, Anda bisa coba berkonsultasi langsung dengan Life Planner atau Financial Advisor AXA Mandiri. Kami akan membantu Anda untuk memahami produk asuransi terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: