Obesitas Anak Meningkat, Ini Tanda, Penyebab & Penanganannya!
Kasus obesitas pada anak di Indonesia terus meningkat dan menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai sejak dini. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga berisiko menimbulkan berbagai penyakit di kemudian hari. Untuk itu, penting bagi setiap orang tua mengenali tanda-tanda obesitas pada anak, memahami penyebab utamanya mulai dari pola makan hingga gaya hidup serta mengetahui penanganan yang tepat untuk mengatasinya.
Menurut laporan Child Nutrition Report 2025 – 'Feeding Profit: How food environments are failing children', Unicef mengungkap negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalami peningkatan prevalensi obesitas sangat pesat selama dua dekade terakhir.
Prevalensi kelebihan berat badan di kalangan anak-anak dan remaja berusia 5-19 tahun setidaknya meningkat tiga kali lipat antara tahun 2000 dan 2022, serta mencapai tingkat sedang (dari 15% menjadi kurang dari 25%) di sembilan negara, termasuk Indonesia. Menurut Unicef, penyebab lonjakan obesitas ini dikarenakan maraknya paparan industri retail yang menjajakan makanan tidak sehat seperti camilan murah, ultra-olahan (makanan siap saji yang menggunakan banyak bahan kimia tambahan), dan minuman manis.
Merujuk pada Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) milik Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 hingga 2023, ada kenaikan angka obesitas hampir dua kali lipat pada usia remaja 13-18 tahun. Namun, pada kategori umur 5-12 tahun menunjukkan adanya penurunan.
Dilansir dari BBC, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan ada beberapa upaya Kemenkes untuk mengatasi persoalan ini diantaranya mengedukasi soal gizi seimbang melalui kampanye Isi Piringku dan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak, penerapan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) berupa aktivitas fisik, makan bergizi, istirahat cukup. Selain itu, terdapat pula deteksi dini faktor risiko obesitas melalui cek kesehatan gratis anak sekolah, penguatan usaha kesehatan sekolah untuk membiasakan pola makan sehat dan aktivitas fisik sejak dini.
Kondisi obesitas pada anak akan memengaruhi tumbuh kembang di masa emas sekaligus meningkatkan risiko penyakit kronis. Oleh karena itu, sebagai orang tua Anda perlu mengetahui tanda-tanda obesitas pada anak sejak dini agar bisa mencegah dan menanganinya dengan cepat dan tepat. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa tanda obesitas pada anak.
Selain tanda fisik tersebut, anak yang mengalami obesitas cenderung kurang percaya diri dan bermasalah dalam pergaulan sosial. Namun adanya obesitas pada anak juga mungkin menandakan masalah kesehatan lain sehingga dibutuhkan pemeriksaan oleh dokter untuk menegakkan penyakit yang melatarbelakangi timbulnya obesitas.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa jumlah anak dengan obesitas di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga perlu perhatian khusus dari orang tua. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab obesitas pada anak.
Kebiasaan sering mengonsumsi makanan cepat saji, tinggi lemak jenuh, gula, serta minuman ringan menjadi penyebab utama obesitas pada anak. Hal ini karena anak biasanya lebih menyukai makanan dengan rasa manis atau tampilan menarik.
Anak yang jarang bergerak atau berolahraga lebih mudah mengalami penumpukan kalori yang menyebabkan kalori yang tidak terbakar akan disimpan sebagai lemak, sehingga meningkatkan risiko obesitas.
Anak yang berasal dari keluarga dengan obesitas lebih berisiko mengalami hal yang sama. Selain faktor genetik, pola makan dan kebiasaan hidup keluarga juga turut berperan didalamnya.
Beberapa anak melampiaskan stres, bosan, atau emosi dengan makan berlebihan, terutama makanan manis, camilan, atau makanan cepat saji.
Selain itu, pola dan asupan makanan yang diajarkan oleh orangtua sejak kecil juga dapat memengaruhi berat badan anak. Oleh karena itu pada anak obesitas, orang tua disarankan untuk mengajarkan pola hidup yang benar sejak dini.
Jika anak dibiasakan mengonsumsi makanan cepat saji maupun minuman manis, dan tidak dibiasakan berolahraga, maka akan sulit mengatasi masalah obesitasnya. Selain faktor-faktor di atas, penggunaan obat tertentu, seperti prednison, lithium, atau amitriptyline, juga dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak.
Obesitas pada anak menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan. Dilansir dari beberapa sumber, berikut langkah perawatan dan penanganan yang dapat diterapkan untuk membantu anak mencapai berat badan yang sehat.
Langkah pertama yang harus orang tua lakukan adalah mendorong anak untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Berikan anak asupan makanan yang cukup, baik dari segi karbohidrat, lemak, protein, maupun vitamin dan mineralnya. Perhatikan juga porsi makan dan besar kalori setiap makanan yang diberikan pada anak. Selain itu, dorong anak untuk mengonsumsi makanan yang sehat setiap harinya seperti mengonsumsi buah dan sayuran setiap hari, membatasi asupan gula, dan menghindari makanan cepat saji.
Camilan tidak sehat dan berlebihan dapat menghambat proses penurunan berat badan. Untuk mengatasi obesitas pada anak, orang tua disarankan untuk mengurangi porsi dan frekuensi pemberian camilan untuk anak. Orang tua juga perlu pintar dalam memilih jenis camilan yang tepat. Hindari memberikan camilan yang tinggi gula dan lemak, seperti permen, kue, dan makanan cepat saji. Camilan untuk anak obesitas sebaiknya rendah kalori dan tinggi nutrisi, seperti buah, kacang-kacangan, dan yogurt.
Mengurangi waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, bermain video game, atau menggunakan perangkat elektronik dapat membantu mencegah pola hidup yang buruk. Dengan membatasi screen time, Anda bisa mendorong anak-anak untuk melakukan aktivitas fisik yang bisa cegah obesitas.
Anak-anak dianjurkan melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari. Kegiatan ini dapat berupa bermain di luar ruangan, bersepeda, berenang, atau mengikuti olahraga terorganisir yang sesuai dengan minat mereka. Jika anak masih enggan untuk diajak berolahraga, Anda juga bisa mengajaknya untuk bermain bola bersama, bermain kejar-kejaran, ataupun lompat tali.
Memberikan edukasi terhadap anak tentang bahaya obesitas adalah cara mencegah dan mengatasi obesitas yang cukup ampuh. Sebagai orangtua, Anda harus aktif mencari informasi tentang gaya hidup sehat dan pola makan yang baik, kemudian menerapkannya pada anak. Selain itu, ajarkan juga mereka untuk mengenali sinyal tubuhnya sendiri, kapan ia merasa lapar dan kenyang. Biasanya, tubuh anak akan menunjukkan beberapa tanda saat mereka merasa lapar ataupun kenyang. Ajarkan juga mereka untuk makan sebelum lapar untuk menghindari makan berlebihan dan berhenti makan sebelum terlalu kenyang.
Anak cenderung meniru gaya hidup orang tua, secara baik maupun buruk. Oleh sebab itu, tanamkan kebiasaan hidup sehat pada anak dengan memberi contoh yang baik. Doronglah anggota keluarga untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan rutin beraktivitas fisik. Dengan begitu, anak akan lebih termotivasi dan merasa didukung dalam proses penurunan berat badannya.
Perlu diperhatikan juga bahwa diet yang terlalu ekstrim dapat menghambat proses tumbuh kembang. Oleh sebab itu, proses penurunan berat badan pada anak obesitas harus diatur dan dipantau oleh dokter spesialis anak.
Dalam kasus tertentu, terutama ketika perubahan gaya hidup tidak memberikan hasil yang diharapkan, dokter mungkin mempertimbangkan penggunaan obat penurun berat badan. Keputusan ini harus dibuat dengan hati-hati dengan mempertimbangkan potensi manfaat dan risiko. Sedangkan, untuk remaja dengan obesitas parah yang tidak merespons intervensi lain, prosedur bedah seperti operasi bariatrik dapat dipertimbangkan untuk menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan dan perbaikan kondisi kesehatan terkait obesitas dalam jangka panjang.
Terapi perilaku kognitif juga dapat membantu anak dan keluarga mengidentifikasi serta mengubah kebiasaan yang berkontribusi pada peningkatan berat badan. Pendekatan ini melibatkan penetapan tujuan, pemantauan diri, dan strategi untuk mengatasi hambatan dalam mencapai gaya hidup sehat.
Selain konseling perilaku, orang tua dan seluruh anggota keluarga juga diharapkan dapat terlibat untuk membantu anak mengubah gaya hidup mereka. Dengan keterlibatan aktif orang tua, tingkat keberhasilan penanganan obesitas pada anak bisa lebih tinggi.
Menangani obesitas pada anak bukan hanya soal memperbaiki pola makan atau membatasi konsumsi gula, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan dukungan kesehatan komprehensif sejak dini. Pemeriksaan rutin, konsultasi dengan dokter spesialis, hingga kebutuhan terapi gizi dan pemantauan berkala seringkali memerlukan biaya yang tidak sedikit. Di sinilah peran asuransi kesehatan menjadi sangat penting.
Dengan memiliki perlindungan asuransi kesehatan, orang tua dapat lebih tenang dalam memastikan anak mendapatkan penanganan yang tepat tanpa harus khawatir soal biaya medis yang membengkak. Anda bisa mempertimbangkan Asuransi Kesehatan Proteksi Ekstra dari AXA Mandiri. Asuransi ini merupakan produk asuransi kesehatan yang memberi pertanggungan hingga usia 75 (tujuh puluh lima) tahun dengan Manfaat Asuransi berupa pembayaran selisih biaya dari peningkatan kelas Rawat Inap bagi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).
Dengan asuransi ini, Tertanggung dapat mengakses kelas Rawat Inap di atas kelas Rawat Inap BPJS Kesehatan yang menjadi haknya. Selain itu, produk ini juga memberikan sejumlah manfaat lain yaitu manfaat ambulans, evakuasi medis dan repatriasi medis, repatriasi jenazah, dan santunan hospital cash plan.
Bagi Anda yang ingin meningkatkan kenyamanan dalam penggunaan BPJS Kesehatan dengan asuransi kesehatan swasta, Anda bisa coba berkonsultasi langsung dengan Life Planner atau Financial Advisor AXA Mandiri. Kami akan membantu Anda untuk memahami produk asuransi terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: