Kanker Kolorektal: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya!
Kanker kolorektal menjadi salah satu jenis kanker yang perlu diwaspadai karena sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas. Penyakit ini muncul pada usus besar atau rektum dan dapat berkembang secara perlahan dari polip yang awalnya tidak berbahaya. Memahami kanker kolorektal sejak dini sangat penting agar masyarakat lebih sadar akan risiko serta langkah penanganannya.
Kanker kolorektal atau kanker usus besar adalah jenis kanker yang menyerang bagian usus besar (kolon) atau rektum, yang berada di ujung sistem pencernaan. Penyakit ini berkembang ketika sel-sel abnormal di kolon atau rektum tumbuh tak terkendali dan membentuk tumor.
Kanker ini biasanya menyerang orang dewasa yang lebih tua (50-65 tahun), meski bisa saja terjadi pada usia berapapun. Biasanya dimulai dari gumpalan sel kecil dan tidak bersifat kanker (jinak) yang disebut polip dan terbentuk di bagian dalam usus besar. Namun, seiring berjalannya waktu beberapa polip ini bisa berkembang menjadi kanker usus besar.
Kanker kolorektal bisa sangat serius, terutama jika tidak terdeteksi atau diobati sejak dini, namun dengan diagnosis dan perawatan yang tepat, tingkat kelangsungan hidup penderita kanker kolorektal dapat meningkat secara signifikan.
Seperti semua jenis kanker, kanker kolorektal terjadi ketika sel-sel di dalam tubuh tumbuh secara tidak normal dan membentuk tumor. Seiring waktu, tumor ini akan berkembang dan merusak jaringan sehat di sekitarnya. Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan sel-sel tersebut berkembang tidak terkendali. Namun, ada faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal, antara lain. Dilansir dari beberapa sumber, berikut penyebab dan faktor risiko utama kanker usus besar.
Jika seseorang memiliki anggota keluarga yang didiagnosis dengan kanker kolorektal, maka risiko mereka terkena kanker ini pun bisa meningkat. Beberapa sindrom genetik seperti sindrom Lynch atau poliposis adenomatosa familial juga meningkatkan risiko kanker kolorektal.
Diet yang tinggi lemak jenuh, rendah serat, serta mengonsumsi daging merah atau daging olahan dalam jumlah banyak diketahui dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan juga menjadi faktor risiko tambahan.
Beberapa penyakit atau kondisi kesehatan, seperti penyakit radang usus (inflammatory bowel disease), kolitis ulseratif, dan penyakit Crohn juga dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal.
Risiko kanker kolorektal cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 50 tahun.
Selain beberapa penyebab di atas, ada beberapa faktor risiko yang juga bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal seperti:
Kanker kolorektal biasanya baru menimbulkan gejala ketika sel kanker sudah makin berkembang. Gejalanya pun bervariasi, tergantung pada ukuran, lokasi kanker, dan stadium kanker. Dilansir dari beberapa sumber, berikut gejala yang umum dialami oleh penderita kanker kolorektal:
Kanker kolorektal dapat menyebabkan perubahan pada pola buang air besar, seperti diare atau sembelit yang berlangsung lama. Penderita mungkin akan merasakan dorongan mendesak untuk buang air besar tetapi tidak dapat mengeluarkan kotoran.
Salah satu tanda utama kanker kolorektal adalah adanya darah dalam tinja, yang bisa berwarna merah terang atau gelap.
Kanker di usus besar atau rektum seringkali menyebabkan nyeri atau kram perut yang tidak kunjung reda.
Jika seseorang mengalami penurunan berat badan yang cepat tanpa alasan jelas, maka bisa menjadi salah satu tanda kanker kolorektal.
Kehilangan darah yang terus-menerus melalui tinja juga dapat menyebabkan anemia, yang pada akhirnya membuat penderita merasa lelah dan lemah.
Selain beberapa gejala di atas, biasanya penderita juga mengalami gejala lain seperti:
Kabar baiknya, kanker kolorektal memiliki berbagai pilihan pengobatan mulai dari operasi, kemoterapi, hingga radioterapi yang disesuaikan dengan stadium dan kondisi pasien. Dilansir dari beberapa sumber, berikut pengobatan yang biasa dilakukan untuk kanker kolorektal.
Pada stadium awal, pembedahan menjadi pilihan utama untuk mengangkat bagian usus besar atau rektum yang terkena kanker. Terkadang, pada stadium yang lebih lanjut, operasi juga bisa dilakukan untuk mengangkat tumor yang telah menyebar ke organ lain. Ada beberapa jenis operasi yang dapat dipilih oleh dokter, yaitu:
Kemoterapi adalah pengobatan yang menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker atau mencegah pertumbuhannya. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum operasi untuk mengecilkan ukuran kanker agar mudah diangkat. Selain itu, kemoterapi juga bisa dilakukan setelah operasi untuk mengurangi risiko kanker kolorektal kembali kambuh. Jika dibutuhkan, dokter dapat mengombinasikan obat kemoterapi dengan terapi target.
Terapi radiasi atau radioterapi adalah pengobatan yang menggunakan sinar X atau proton untuk menghancurkan atau membunuh sel kanker. Radioterapi bisa dilakukan sebelum operasi untuk menciutkan ukuran kanker, atau setelah operasi untuk menghancurkan sel kanker yang mungkin tertinggal. Jika diperlukan, radioterapi dapat dikombinasikan dengan kemoterapi.
Imunoterapi adalah jenis pengobatan yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker. Imunoterapi biasanya efektif untuk pasien yang memiliki jenis mutasi tertentu dalam sel kanker mereka. Imunoterapi bekerja dengan dua cara, yaitu obat yang mendorong sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel kanker dengan lebih efektif atau obat dengan kandungan senyawa buatan, yang meniru cara kerja sistem kekebalan tubuh.
Terapi ini menggunakan obat-obatan yang dirancang untuk menargetkan molekul tertentu pada sel kanker seperti gen, protein, atau jaringan tubuh. Obat yang digunakan dalam terapi target berfungsi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada sel-sel yang sehat. Terapi target lebih spesifik dan seringkali memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan kemoterapi.
Ablasi digunakan untuk menghancurkan kanker yang yang telah menyebar ke hati (liver) atau paru-paru dan berdiameter kurang dari 4 cm. Ada 4 teknik ablasi yang dapat digunakan untuk menangani kanker kolorektal, yaitu:
Embolisasi digunakan untuk menghancurkan kanker kolorektal yang telah menyebar ke liver dan berdiameter lebih dari 5 cm. Teknik ini bertujuan untuk menyumbat arteri liver yang memberi asupan nutrisi dan oksigen ke kanker. Embolisasi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
Pengobatan kanker kolorektal memerlukan pendekatan holistik, termasuk dukungan psikologis, perubahan gaya hidup, dan diet sehat. Kombinasi antara pengobatan medis dan gaya hidup yang lebih baik memberikan peluang pemulihan yang lebih optimal.
Upaya pencegahan seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan melakukan skrining secara berkala dapat membantu menurunkan risiko penyakit ini. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan untuk melawan kanker kolorektal dan menjaga kualitas hidup tetap optimal.
Selain itu, dokter juga menganjurkan untuk mempertimbangkan skrining kanker kolon saat usia 45 tahun. Namun, khusus orang dengan risiko tinggi seperti mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker kolon, harus mempertimbangkan skrining lebih awal. Ada beberapa pilihan skrining kanker kolon dengan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk memutuskan tes apa yang sesuai dengan kondisi Anda.
Semakin memahami betapa krusialnya skrining kanker kolorektal, semakin jelas pula bahwa kesehatan bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga pencegahan. Deteksi dini memberi peluang lebih besar untuk pemulihan dan menurunkan biaya perawatan yang bisa membengkak jika penyakit ditemukan pada stadium lanjut.
Di sinilah peran asuransi kesehatan menjadi sangat penting sebagai perlindungan finansial yang memastikan kita dapat menjalani pemeriksaan rutin tanpa rasa khawatir akan biaya. Salah satu produk asuransi yang bisa Anda pertimbangkan adalah Asuransi Mandiri Proteksi Kanker Dini dari AXA Mandiri.
Asuransi Mandiri Proteksi Kanker Dini merupakan produk asuransi yang memberikan manfaat penggantian biaya Rawat Inap, Rawat Jalan dan tindakan bedah dengan pembayaran langsung (cashless) atau reimbursement dan juga manfaat santunan kematian serta manfaat santunan tunai harian serta manfaat pengembalian Premi (jika dipilih).
Konsultasikan perencanaan finansial Anda dalam memilih produk asuransi dengan Financial Advisor dan Life Planner AXA Mandiri yang akan membantu Anda memahami manfaat asuransi dan memberikan solusi terbaik sesuai dengan kondisi finansial Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: