Penyebab Mata Merah & Cara Mengatasinya dengan Tepat
Mata merah sering kali menjadi tanda adanya gangguan pada kesehatan mata Anda. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kelelahan akibat terlalu lama menatap layar, alergi, infeksi bakteri atau virus, hingga iritasi karena paparan debu dan polusi. Meskipun umumnya tidak berbahaya, mata merah yang tidak ditangani dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan bahkan berisiko menyebabkan gangguan penglihatan. Untuk memahami lebih lanjut, berikut penjelasan mengenai penyebab mata merah hingga cara mengatasinya dengan tepat.
Mata merah bisa disebabkan oleh berbagai hal dan umumnya tidak berbahaya. Namun, penting untuk mengetahui penyebab mata merah agar dapat ditangani dengan tepat dan mencegah komplikasi. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa penyebab mata merah yang perlu Anda ketahui:
Kondisi ini terjadi ketika produksi air mata tidak mencukupi atau kualitas air mata buruk, sehingga menyebabkan mata iritasi dan merah. Mata kering biasanya dialami oleh individu yang terlalu lama menatap layar komputer, handphone, TV atau terlalu lama berada di ruangan ber-AC. Kondisi ini sering membuat Anda secara tanpa sadar menjadi jarang berkedip. Padahal, berkedip menjadi mekanisme alami tubuh untuk melembapkan mata, sehingga dapat membantu mencegah mata kering dan kelelahan.
Debu, asap, dan polusi udara, dan bahan kimia seperti klorin di kolam renang dapat memicu iritasi pada lapisan luar mata, menyebabkan kemerahan, gatal, dan rasa perih.
Mata merah juga dapat menjadi salah satu gejala alergi mata. Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang, bahan kimia tertentu yang ada dalam makeup ataupun cairan lensa kontak memicu tubuh untuk melepaskan histamin sebagai upaya melawan alergen. Akibatnya, mata membengkak, tampak merah dan berair.
Kurang tidur tidak hanya membuat tubuh terasa lemas, tetapi juga bisa menyebabkan mata merah. Saat kurang tidur, pembuluh darah di mata melebar, sehingga mata tampak merah. Oleh karena itu, pastikan untuk tidur cukup, 7-8 jam setiap malam.
merupakan peradangan pada konjungtiva yaitu selaput tipis yang menutup bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Penyebabnya adalah infeksi virus, bakteri, atau alergi, disertai cairan atau kelopak lengket. Kondisi ini bisa menular dan terjadi pada satu atau kedua mata.
Pendaharahan konjungtiva terjadi ketika pembuluh darah kecil pada bagian putih mata (konjungtiva) pecah dan mengakibatkan darah merembes di antara konjungtiva dan sklera. Perdarahan ini biasanya terlihat berbentuk titik atau bercak berwarna merah darah pada bagian putih mata. Perdarahan subkonjungtiva bisa diakibatkan oleh banyak hal, mulai dari bersih atau batuk yang terlalu keras, mengucek mata, hingga cedera mata lainnya.
Uveitis adalah peradangan mata pada lapisan tengah dinding mata (uvea). Kondisi ini menyebabkan mata kemerahan, sakit, dan penglihatan menjadi buram. Uveitis dapat menyerang salah satu atau kedua mata, dan dapat terjadi pada siapa saja. Beberapa penyebab uveitis adalah infeksi, cedera mata, atau adanya penyakit autoimun. Namun, sering kali tidak diketahui pasti penyebabnya.
Penggunaan kontak lensa yang tidak bersih atau tidak tepat juga bisa mengiritasi kornea dan memicu mata merah. Lensa yang tidak bersih atau digunakan terlalu lama dapat mengiritasi kornea dan menyebabkan mata merah serta kering. Jika mata mulai terasa tidak nyaman, sebaiknya segera hentikan penggunaan lensa kontak, atau ganti dengan yang baru. Pastikan juga untuk selalu mencuci tangan sebelum menyentuh kontak lensa dan bersihkan lensa secara teratur sesuai dengan petunjuk dokter agar mata tetap sehat dan terhindar dari infeksi.
Glaukoma adalah kondisi serius yang ditandai dengan peningkatan tekanan bola mata. Tekanan ini mengakibatkan kerusakan pada saraf-saraf optik dan mengancam penglihatan. Salah satu gejala khas glaukoma adalah mata merah yang disertai dengan sakit kepala, pusing, serta mual dan muntah. Jika tidak segera ditangani, glaukoma berisiko menyebabkan kerusakan permanen atau kebutaan.
Beberapa jenis obat-obatan seperti antihistamin dan dekongestan dapat menimbulkan efek samping berupa mata kering dan merah. Efek ini bersifat sementara. Jika Anda mengalami mata merah setelah mengonsumsi obat tertentu, konsultasikan dengan dokter memastikan penyebabnya dan mendapatkan alternatif pengobatan yang lebih sesuai.
Infeksi mata dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus dan mengenai salah satu ataupun kedua mata. Infeksi bakteri umumnya ditandai dengan keluarnya cairan kental berwarna kuning atau hijau, sedangkan infeksi virus menghasilkan cairan yang bening dan encer.
Beberapa jenis bakteri yang menjadi penyebab mata merah adalah Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumonia, dan Pseudomonas aeruginosa. Sedangkan virus yang menyebabkan mata merah adalah corona, adenovirus, dan virus herpes simpleks.
Meskipun infeksi mata biasanya tidak berbahaya dan dapat sembuh dalam 1–2 minggu, kondisi ini sangat mudah menular. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kebersihan dan menghindari kontak langsung dengan mata yang terinfeksi.
Kelainan posisi kelopak mata dapat menjadi salah satu penyebab mata merah. Terdapat dua jenis utama dari kondisi ini, yaitu entropion dan ektropion. Pada kasus entropion atau kelopak mata terlipat ke dalam akan membuat bulu mata tumbuh ke arah bola mata dan menggores kornea. Kondisi ini dapat menimbulkan radang atau luka pada kornea yang membuat mata terasa nyeri dan tampak merah.
Sedangkan, pada kasus ektropion atau kelopak mata terlipat ke luar, air mata tidak dapat membasahi permukaan bola mata secara sempurna akibatnya mata menjadi kering dan menimbulkan iritasi pada mata dan tampak kemerahan.
Mata merah umumnya bukan kondisi serius dan sering kali dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan menghindari sejumlah faktor-faktor pemicunya. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa cara mencegah mata merah yang dapat dilakukan:
Mata merah bisa mengindikasikan masalah kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara mengatasi mata merah dengan tepat untuk mencegah komplikasi. Dilansir dari beberapa sumber, berikut cara meredakan kondisi mata merah yang bisa Anda lakukan.
Langkah pertama dalam mengobati mata merah adalah menghindari faktor pemicunya, seperti serbuk sari, asap, atau bahan kimia lainnya. Jika mata Anda terpapar debu atau polusi, segera cuci mata dengan air bersih atau gunakan tetes mata yang direkomendasikan dokter untuk meredakan iritasi.
Mengompres mata dengan handuk dingin dapat meredakan peradangan dan mengurangi kemerahan pada mata merah akibat alergi atau iritasi ringan. Kompreskan handuk dingin pada mata tertutup selama beberapa menit untuk meredakan kemerahan pada mata.
Tetes mata pelembap (artificial tears) dapat digunakan untuk mengatasi mata kering dan iritasi ringan. Jika alergi menjadi penyebab mata merah, dokter biasanya menyarankan penggunaan tetes mata yang mengandung antihistamin untuk meredakan gejala.
Selain tetes mata, Anda juga bisa mengonsumsi antihistamin atau dekongestan OTC untuk mengurangi mata merah. Obat-obatan seperti ibuprofen dan acetaminophen juga tersedia tanpa resep untuk membantu meredakan ketidaknyamanan atau pembengkakan.
Jika mata merah tidak kunjung membaik setelah beberapa hari, disertai nyeri hebat, atau gangguan penglihatan, pastikan untuk segera konsultasi dengan dokter spesialis mata. Pemeriksaan oleh tenaga medis dibutuhkan untuk mengidentifikasi penyebab yang tepat dan memberikan perawatan yang sesuai.
Jika mata merah disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter biasanya akan memberikan resep antibiotik berupa salep atau tetes mata untuk mengatasinya. Sedangkan untuk konjungtivitis virus biasanya dapat sembuh sendiri dalam beberapa hari, namun penting menjaga kebersihan untuk mencegah penyebaran.
Glaukoma merupakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan medis segera untuk menurunkan tekanan dalam mata. Dokter dapat memberikan obat-obatan atau melakukan prosedur tertentu untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada saraf optik. Jika mata merah tidak membaik atau disertai gejala lain, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan tepat dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Meski sebagian kasus mata merah dapat diatasi dengan perawatan sederhana di rumah, beberapa kondisi bisa menandakan masalah kesehatan yang lebih serius sehingga membutuhkan penanganan medis. Disinilah pentingnya memiliki asuransi kesehatan yang dapat membantu menanggung biaya konsultasi, pemeriksaan, hingga pengobatan agar kesehatan mata tetap terjaga tanpa membebani keuangan.
Salah satu produk asuransi kesehatan yang bisa Anda pertimbangkan untuk memberikan perlindungan ketika terjadi risiko finansial akibat tingginya biaya operasi usus buntu adalah Asuransi Mandiri Solusi Kesehatan dari AXA Mandiri. Asuransi ini memberikan manfaat penggantian biaya harian kamar rawat inap Rumah Sakit, penggantian biaya harian kamar unit perawatan intensif, penggantian biaya pembedahan, santunan meninggal dunia karena Kecelakaan, penggantian biaya transportasi ke Rumah Sakit untuk setiap rawat inap serta manfaat pengembalian premi dengan ketentuan sebagaimana diatur di dalam Polis. Pembayaran premi dilakukan secara bulanan, kuartalan, semesteran atau tahunan.
Konsultasikan perencanaan finansial Anda dalam memilih produk asuransi kesehatan dengan Life Planner dan Financial Advisor AXA Mandiri yang akan membantu Anda memahami manfaat asuransi dan memberikan solusi terbaik sesuai dengan kondisi finansial Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: